Surah Luqman : Ayat 21
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?"

Tafsir Ringkas Kemenag
Dan apabila dikatakan kepada mereka yang membantah keesaan Allah, 'ikutilah apa yang diturunkan Allah berupa syariat yang benar!' mereka menjawab, 'tidak! tetapi kami hanya mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami. ' jawaban ini menggambarkan buruknya akidah mereka. Apakah mereka tetap mengikuti keyakinan nenek moyang mereka walaupun sebenarnya mereka hanya mengikuti langkah setan yang menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-Nyala' mereka pasti tidak akan berbuat demikian andaikata mau menggunakan akal dan nurani yang sehat. 22. Sungguh mengherankan jika seseorang mengingkari wujud dan keesaan-Nya, apalagi hal itu hanya didasarkan pada taklid buta. Ia tidak memiliki pegangan, berbeda halnya dengan orang yang berserah diri kepada Allah. Siapa saja yang berserah diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan, sedang dia orang yang berbuat kebaikan dengan menebarkan kebajikan kepada siapa pun dan di mana pun, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kukuh. Di akhirat ia akan memperoleh balasannya karena hanya kepada Allah kesudahan segala urusan untuk diputuskan dan dibalas dengan sangat adil.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 20-21 Allah SWT berfirman seraya mengingatkan kepada makhlukNya atas semua nikmatNya kepada mereka di dunia dan akhirat bahwa Dia telah menundukkan bagi mereka apa yang ada di di langit berupa bintang-bintang yang mereka gunakan sebagai penerangan di malam dan siang hari, serta apa yang telah Dia ciptakan di langit berupa awan, hujan, salju dan embun, dan Dia menjadikan langit bagi mereka sebagai atap yang terpelihara. Dan apa yang telah Dia ciptakan bagi mereka bumi berupa tempat tinggal, sungai-sungai, pepohonan, tanam-tanaman, dan buah-buahan. Dia melimpahkan kepada mereka nikmat-nikmatNya secara lahir maupun batin, berupa mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka untuk menyingkirkan keraguan dan penyakit. Sekalipun demikian maka tidaklah mereka semua beriman, bahkan di antara mereka ada orang-orang yang membantah tentang keesaan Allah dan pengutusan para rasul. Bantahan mereka tentang hal itu tidak berdasarkan pengetahuan, tidak bersandarkan kepada hujjah yang benar, dan tidak berdasarkan kitab yang ada dan benar. Oleh karena itu Allah SWT: (Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan) yaitu yang jelas dan terang (Dan apabila dikatakan kepada mereka) yaitu, kepada mereka yang membantah tentang keesaan Allah (Ikutilah apa yang diturunkan Allah) yaitu kepada RasulNya berupa syariat yang disucikan (Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”) yaitu tidak ada hujjah bagi mereka melainkan hanya mengikuti jejak bapak-bapak mereka yang terdahulu. Allah SWT berfirman: ((Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?) (Surah Al-Baqarah: 170) yaitu, Wahai orang-orang yang berhujjah, apakah kalian tetap mengikuti perbuatan nenek moyang kalian meskipun mereka berada dalam kesesatan, lalu kalian menjadi generasi penerus bagi mereka dalam kesesatan itu? Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?)
Tafsir As-Sa'di
20-21. Allah menyebut-nyebut kebaikanNya kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dan mengajak mereka mensyukurinya, melihatnya dan tidak melupakannya, seraya berfirman, “TIdakkah kamu perhatikan.” Maksudnya, tidakkah kalian saksikan dan melihat dengan mata kepala dan hati nurani kalian “bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit,” berupa matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia”dan apa yang ada di bumi,” berupa bermacam-macam hewan, pepohonan, tanaman, sungai, barang tambang dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah, "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu" (Al-Baqarah:29). “Dan menyempurnakan untukmu,” maksudnya, meratakan dan melimpahkanruahkan kepada kalian “nikmatNya lahir dan batin,” yaitu yang kita ketahui dan yang tidak dapat kita ketahui, nikmat dunia dan nikmat agama, tercapainya berbagai kemaslahatan (manfaat) dan tercegahnya berbagai mudarat. Maka kewajian kalian adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan cara mencintai Sang Maha Pemberi nikmat, tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka menaatiNya, dan tidak menggunakan sedikit pun untuk kemaksiatan terhadapNya. “Dan” akan tetapi, sekalipun berlimpah ruahnya nikmat tersebut “ada di antara manusia orang,” yang tidak mensyukurinya, bahkan malah mengingkarinya dan mengingkari DZat yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut, dan mengingkari kebenaran yang karenanya Dia menurunkan kitab-kitab suciNya, dan yang karenanya Dia mengutus para RasulNya. Maka dia pun mulai “membantah tentang Allah,” maksudnya, ia mendebat tentang kebatilan agar dengannya dia bisa mencampakkan kebenaran, dan agar dapat menolak apa-apa yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah, yaitu perintah hanya beribadah kepada Allah saja. Dan si pembantah ini tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mendalam. Jadi, debat yang dilakukannya tidak berdasarkan ilmu, maka biarkan saja dia begitu dan biarkan dia berbicara, “tanpa petunjuk,” yang dapat dijadikan pedoman oleh orang-orang yang medapat petunjuk, ”dan tanpa Kitab yang memberi penerangan,” maksudnya, yang sangat terang lagi menjelaskan yang benar. Maka tidak ada yang logis, atau nash yang dinukil dan tidak ada keteladanan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang Allah hanya berdasarkan taklid buta kepada nenek moyang yang tidak pernah mendapat petunjuk, bahkan orang-orang sesat yang menyesatkan. Maka dari itu Allah berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’,” melalui para RasulNya, karena sesungguhnya itu yang benar, dan (ketika) dijelaskan kepada mereka dalil-dalilnya yang Nampak, “mereka menjawab,” dengan nada menentangnya, “Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya,” maka kami tidak akan meninggalkan apa yang telah menjadi panutan bapak-bapak kami hanya karena perkataan seseorang, siapa pun dia. Lalu Allah berfirman seraya membantah mereka dan bapak-bapak mereka, “Dan apakah walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?” yakni, lalu bapak-bapak mereka memenuhi seruannya dan berjalan mengekor kepadanya, dan mereka menjadi murid-murid setan, dan mereka pun diselimuti oleh kebimbangan. Apakah yang demikian ini berhak untuk diikuti dan ditelusuri jejak nmereka? Ataukah yang demikian itu membuat merek atakut untuk menelusuri jalan mereka dan diserukan akan kesesatan mereka dan kesesatan orang-orang yang mengikutinya? Padahal seruan setan kepada bapak-bapak mereka dan kepada mereka bukan karena kecintaan dan kasih saying setan kepada mereka, akan tetapi sesungguhnya hal itu adalah karena kebencian setan dan tipu muslihatnya terhadap mereka. Sebenarnya para pengikutnya adalah berasal dari musuh-musuhnya yang telah mampu ia taklukkan dan dia kalahkan, dan dia (setan) sangat senang karena mereka berhak mendapat azab api yang menyala-nyala disebabkan seruannya di terima.
Tafsir Al-Wajiz
21. Apabila para penyembah berhala itu diberi nasihat: “Ikutilah apa yang telah Allah turunkan kepada rasul-Nya yaitu Alquran.” Mereka menjawab: “Kami menolak Alquran, kami sudah berpegang pada para pendahulu kami dalam hal akidah, yaitu kami telah mengikuti pendahulu kami untuk menyembah berhala.” Kemudian Allah menjawab mereka: “Apakah kalian akan tetap mengikuti mereka, meskipun para setan sebenarnya menyesatkan dan mengajak mereka ke dalam azab neraka Jahannam?” Kata tanya adatul istifham dalam kalimat tersebut berfungsi untuk mengingkari dan membuat takjub. Adapun jawabnya adalah menggunakan lau yang tersirat yaitu berarti mereka benar-benar telah mengikuti mereka

Sumber tafsir dari tafsirweb.com