Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menyikapi kebenaran Al-Qur'an, yaitu orang-orang bertakwa, kafir, dan munafik, selanjutnya Allah menyeru kepada manusia secara umum agar beragama secara benar melalui tiga hal: hanya beribadah kepada Allah (ayat 21-22), percaya kepada risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad, yakni Al-Qur'an, (ayat 23-24), dan beriman kepada hari kebangkitan (ayat 25). Wahai manusia! sembahlah dan beribadahlah secara tulus kepada tuhanmu sebab dia yang telah menciptakan dan memelihara kamu dan orang-orang yang sebelum kamu dari yang sebelumnya tiada. Dia adalah satu-satunya pencipta segala sesuatu. Perintah beribadah itu ditujukan agar kamu bertakwa dan dapat memelihara diri serta terhindar dari murka dan siksa Allah. Dengan beribadah, berarti kita telah mempersiapkan diri untuk mengagungkan Allah, sehingga jiwa menjadi suci dan tunduk kepada kebenaran. Sesungguhnya dialah yang dengan kekuasaan-Nya menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu sehingga layak dan nyaman untuk dihuni, dan menjadikan di atas kamu langit dan benda-benda yang ada padanya sebagai atap, atau sebagai bangunan yang cermat, indah, dan kukuh. Dan dialah yang menurunkan sebagian dari air, yaitu air hujan, dari langit yang menjadi sumber kehidupan. Lalu dia hasilkan dengan air itu sebagian dari buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah yang telah menciptakan sedemikian rupa dan telah memberimu rezeki, padahal kamu dengan fitrah kesucian yang ada dalam diri mengetahui bahwa Allah tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang memberi rezeki selain-Nya, maka janganlah kamu menyimpang dari fitrah itu.
[Tafsir Tematis / Team Asatidz TafsirWeb]
Alqomah dan mujahid berkata “setiap ayat yang awalnya “ ” maka ayat tersebut diturunkan di Mekah, dan setiap ayat yang diawali dengan kalimat “ ” maka ayat tersebut diturunkan di Madinah. Alqurtubi membantah pendapat ini dengan mengatakan bahwa dalam surat Al-Baqoroh dan surat An-Nisa ada ayat yang diawali dengan kalimat “ ” padahal dua surat ini merupakan surat yang diturunkan di Madinah. Adapun pendapat mereka tentang maka hal itu shohih. ‘Urwah bi az-Zubair berkata, tidak ada satu aturan atau kewajiban pun yang ada dalam alquran kecuali diturunkan di Madinah, dan adapun surat-surat yang menyebutkan tentang kisah-kisah umat terdahulu dan tentang azab nya kecuali diturunkan di Mekah” Dalam ayat ini menyeru dengan kalimat “ ” “wahai manusia”. Para ulama berbeda pendepat mengenai makna kalimat ini menjadi dua pendapat. Pertama, yang Allah seru dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tidak menyembah-Nya. Hal ini ditunjukan oleh ayat-ayat berikutnya yaitu : Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (QS. Al-Baqoroh : 23) berdasarkan ayatt di atas Jelaslah bahwa yang dimaksud oleh Allah dalam seruan-Nya adalah orang-orang kafir. Kedua, yang dimaksud dalam seruan Allah pada ayat ini adalah umum untuk seluruh manusia, maka jadilah makna seruannya sebagai perintah mendawamkan ibadah bagi orang-orang mukmin dan perintah untuk memulai ibadah untuk orang-orang kafir. Dan pendapat ini sangat bagus. Allah meyuruh manusia untuk beribadah kepadanya, dan yang dimaksud dengan ibadah dalam ayat ini adalah Tauhid dan berpegang teguh pada syariat agama Allah. Pokok dari ibadah adalah ketundukan dan kepatuhan kepada yang diibadahi. Ibnu tayimiyah mengatakan bahwa ibadah adalah satu nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridoi-Nya baik ucapan, perbuatan. Baik yang dzohir ataupun yang tersembunyi. Dalam ayat ini juga Allah menegaskan ke-uluhiyahan-Nya sehingga hanya Dia-lah satu-satu yang berhak mendapat penyembahan seluruh makhluk. Selain itu juga Allah mempertegas ke-rububiyahan-Nya, yaitu bahwa Dia-lah yang telah menciptakan seluruh makhluk, tidak ada yang mampu menciptakan sesuatu dari ketidak adaan menjadi ada kecuali Allah ‘azza wa jalla. Dengan demikian jelaslah salah satu alasan kuat kenapa Allah memerintahkan seluruh manusia untuk beribadah kepada-Nya, yaitu karena Dia-lah yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka. Dan tujuan dari penciptaan ini tiada lain adalah penyembahan total dari yang dicipta kepada Sang Pencipta, sebagaimana firman-Nya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56) Adapun tujuan pelaksanaan ibadah untuk manusia adalah supaya mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. Maksudnya, dengan melaksanakan ketauhidan dan segala konsekwensinya serta berpegang teguh terhadap syariat-syariat agama, maka akan membuat diri menjadi takut kepada Allah ta’la dan membuat adanya penghalang yang menjaga anatara dirinya dengan neraka Allah. Ketaqwaan adalah sesuatu yang dijadikan sebagai alat ukur kemuliaan manusia di hadapan Allah, semakin kuat manusia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka semakin besar ketakwaannya dan semakin mulia kedudukannya dihadapan Allah ta’ala.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT telah menetapkan dalam penjelasan tentang keesaan dan ketuhananNya yaitu bahwa Dialah Dzat yang memberi anugerah kepada hamba-hambaNya dengan mengeluarkan mereka dari ketiadaan menjadi ada, menyempurnakan anugerahNya atas mereka, yaitu nikmat yang tampak dan tersembunyi. Dia menjadikan bumi sebagai alas bagi mereka, yaitu menghamparkannya seperti alas yang rihamparkan dan diratakan, dikokohkan oleh pegunungan yang tinggi. Dan menjadikan langit sebagai atap, sebagaimana firman Allah dalam ayat lain: (Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya) (Surah Al-Anbiya: 32) Dan menurunkan bagi mereka air dari langit, yang dimaksud di sini adalah awan ketika mereka membutuhkannya. Dengan air tersebut, Dia menumbuhkan berbagai jenis tanaman dan buah-buahan yang bisa disaksikan (mata) sebagai rezeki bagi mereka dan ternak mereka. Sebagaimana Dia telah menyebutkan hal ini di beberapa ayat Al-Qur'an lainnya. Salah satu ayat yang mirip dengan ayat ini adalah firman Allah: (Dzat yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.) (Surah Ghafir: 64). Makna yang terkandung di dalamnya yaitu bahwa Dia adalah Pencipta, Pemberi Rezeki, Raja seluruh alam dan para penghuninya serta Pemberi Rezeki bagi mereka. Oleh karena itu, Dia satu-satunya yang layak untuk disembah dan tidak menyekutukanNya dengan yang lain. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui) Dalam hadits shahih Bukhari-Muslim (diriwayatkan) dari Ibnu Mas'ud, dia berkata, "Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa manakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Kamu menyekutukanNya, padahal Dia adalah penciptamu....". Demikian pula dalam hadis dari Mu'adz, "Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hambaNya?... yaitu mereka menyembahNya dengan tidak menyekutukanNya dengan apapun...". Dalam hadits lainnya, "Jangan pernah salah seorang dari kalian mengatakan, “Apa yang dikehendaki Allah dan Fulan juga berkehendak, tetapi sebaiknya dia mengatakan, “Apa yang dikehendaki Allah, kemudian Fulan." Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Seorang laki-laki berkata kepada Nabi: “Apa yang dikehendaki Allah dan apa yang engkau kehendaki?” Lalu Nabi bersabda: “Apakah kamu menjadikanku sebagai sekutu bagi Allah” Katakanlah: “Apa yang dikehendaki Allah saja” Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih. Hadits ini juga disebutkan oleh An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari hadits Isa bin Yunus tentang Al-Ajlah, Semua ini adalah upaya untuk melindungi dan memelihara kesucian tauhid. Dan hanya Allah yang lebih Mengetahui. Dari Ibnu Abbas, dia berkata, bahwa firman Allah SWT: (Hai manusia, sembahlah Tuhanmu) itu kedua golongan, baik orang-orang kafir maupun orang-orang munafik; maknanya yaitu, Esakanlah Tuhan kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian. Dan dari Ibnu Abbas, makna firman Allah: (karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui) yaitu, janganlah menyekutukanNya dengan sekutu-sekutu yang tidak mampu memberikan manfaat dan mudharat, sedangkan kalian sudah tahu bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang memberi rezeki kepada kalian. Sungguh kalian sudah tahu bahwa apa yang diserukan oleh Rasulallah SAW kepada kalian tentang Tauhid itu adalah suatu kebenaran yang tidak diragukan lagi. Demikianlah yang dikatakan Qatadah. Dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah SWT : (karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah)- dia berkata: makna “Sekutu-sekutu” adalah bentuk kesyirikan yang lebih tersembunyi daripada jejak semut hitam di atas batu hitam pada kegelapan malam. Yaitu ketika seseorang mengatakan, “Demi Allah, demi nyawamu, wahai Fulan!”, “Demi nyawaku!” atau dia mengatakan, “Jika bukan karena anjing ini, para pencuri itu mendatangi kita semalam” atau “Jika bukan karena seekor bebek di rumah ini, para pencuri itu akan datang”, dan ucapan seorang lelaki kepada temannya: “Apa yang dikehendaki Allah dan apa yang dikehendaki Fulan” – Jangan masukkan kata “Fulan” pada kalimat ini, dan semua hal ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah. Abu Al-‘Aliyah berkata,(karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah) – maknanya yaitu sekutu-sekutu Begitu juga pendapat Rabi' bin Anas, Qatadah, As-Suddi, dan Abu Malik, dan Isma'il bin Abi Khalid. Mujahid berkata, makna firman Allah SWT: (karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui) yaitu bahwa kalian mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dalam Taurat dan Injil. Ulama’ lain berkata: Siapa saja yang merenungi langit tentang ketinggiannya, keluasannya, dan apa yang ada di dalamnya berupa planet-planet besar dan kecil yang terang benderang, bergerak dengan teratur, serta menyaksikan bagimana planet-planet itu beredar (secara beraturan) bersamaan dengan peredaran benda langit yang besar setiap hari, dan masing-masing benda langit itu memiliki jalur khususnya masing-masing, serta memperhatikan lautan yang menyelubungi bumi di segala penjuru, serta gunung-gunung yang ditancapkan di permukaan bumi dengan berbagai bentuk dan warna yang berbeda, supaya penduduknya bisa tinggal dan menempatinya, sebagaimana Allah SWT berfirman (Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat (27) Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama) (Surah Fatir: 27-28). Demikian juga dengan sungai-sungai yang mengalir dari satu tempat ke tempat lain untuk memberikan manfaat, serta segala sesuatu yang telah Dia ciptakan di bumi, berupa hewan yang beraneka ragam, dan tumbuhan-tumbuhan yang beragam rasa, aroma, bentuk, dan warnanya, semuanya bersatu dalam kesatuan tanah dan air. Semuanya menunjukkan adanya Pencipta, kekuasaanNya yang agung, hikmahNya, kasih sayangNya, dan kebaikanNya terhadap mereka, Tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Dia. Hanya kepadaNyalah aku bertawakal dan hanya kepadaNyalah aku kembali. Ayat-ayat dalam Al-Quran yang menunjukkan hal ini sangat banyak sekali