Surah Al-Baqarah : Ayat 20
يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu."
Tafsir Ringkas Kemenag
Karena amat cepat dan terangnya, hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari, mereka berjalan beberapa langkah di bawah sinar itu, dan apabila kilat itu menghilang dan gelap kembali menerpa mereka, mereka berhenti di tempat dengan penuh kebimbangan. Orang-orang munafik itu ketika melihat bukti-bukti dan tanda-tanda kekuasaan Allah terkagum-kagum dengan itu semua sehingga mereka berkeinginan mengikuti kebenaran tersebut. Akan tetapi, tidak beberapa lama kemudian mereka kembali kepada kekufuran dan kemunafikan. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya dia hilangkan pendengaran mereka dengan suara halilintar yang memekakkan telinga, dan dia hilangkan penglihatan mereka dengan sambaran kilat yang sangat cepat dan terang, tetapi Allah menangguhkan itu semua sampai tiba saatnya nanti. Sungguh, Allah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan mahakuasa atas segala sesuatu, dengan atau tanpa sebab apa punsetelah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menyikapi kebenaran Al-Qur'an, yaitu orang-orang bertakwa, kafir, dan munafik, selanjutnya Allah menyeru kepada manusia secara umum agar beragama secara benar melalui tiga hal: hanya beribadah kepada Allah (ayat 21-22), percaya kepada risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad, yakni Al-Qur'an, (ayat 23-24), dan beriman kepada hari kebangkitan (ayat 25). Wahai manusia! sembahlah dan beribadahlah secara tulus kepada tuhanmu sebab dia yang telah menciptakan dan memelihara kamu dan orang-orang yang sebelum kamu dari yang sebelumnya tiada. Dia adalah satu-satunya pencipta segala sesuatu. Perintah beribadah itu ditujukan agar kamu bertakwa dan dapat memelihara diri serta terhindar dari murka dan siksa Allah. Dengan beribadah, berarti kita telah mempersiapkan diri untuk mengagungkan Allah, sehingga jiwa menjadi suci dan tunduk kepada kebenaran.
Tafsir Ibnu Katsir
Ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah SWT untuk orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang terkadang melihat kebenaran dan terkadang meragukannya. Lalu hati mereka selalu bergejolak dalam keragu-raguan, kekafiran, dan kebimbangan seperti (Atau seperti hujan lebat). "Ash-Shaibu" artinya adalah hujan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, beberapa sahabat, Abu Al-‘Aliyah, Mujahid, Sa'id bin Jubair, ‘Atha, Hasan Al-Bashri, Qatadah, ‘Athiyyah Al-‘Aufi, ‘Atha’ Al-Khurasani, As-Suddi, dan Ar-Rabi' bin Anas. Ad-Dhahhak berkata, bahwa (Ash-Shaibu) maknanya adalah awan. Makna yang lebih populer adalah hujan yang turun dari langit, yang terjadi dalam keadaan gelap; Hal itu merujuk pada keraguan, kekafiran, dan kemunafikan. (Ar-Ra’du) adalah sesuatu yang membuat hati gelisah karena ketakutan; karena ketakutan dan kengerian yang sangat parah itu berpengaruh bagi orang-orang munafik, dan kengerian; sebagaimana Allah SWT berfirman (Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka)
Tafsir As-Sa'di
20. ”Setiap kali kilat itu menyinari mereka, ” yakni kilat dalam kegelapan-kegelapan tersebut, ”mereka berjalan dibawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti, ” yakni mereka diam. Seperti itulah kondisi orang-orang munafik ketika mereka mendengarkan al-Qur’an, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, janji dan ancamannya. Mereka meletakkan jari jemari mereka pada telinga-telinga mereka dan mereka berpaling dari perintahnya, larangannya, janjinya dan ancamannya, lalu ancamannya mengusik mereka, janji-janjinya mengganggu mereka, dan mereka berpaling darinya dengan sekuat tenaga, hingga membuat mereka lebih kokoh, mereka membencinya seperti seorang yang terkena hujan dan ia mendengar guruh lalu meletakkan jari jemarinya pada kedua telinganya karena takut dari kematian. Orang seperti ini masih mempunyai kemungkinan memperoleh keselamatan, adapun orang-orang munafik, dari manakah mereka memperoleh keselamatan, padahal Allah ta’ala mengawasi mereka, baik dengan Kuasa maupun ilmuNya, dan mereka tidak akan lepas dariNya dan tidak mampu melemahkan-Nya, bahkan Dia akan mencatat perbuatan-perbuatan mereka lalu kelak akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang setimpal. Dan ketika mereka diuji dengan ketulian, kebutaan, dan kebisuan maknawi serta tertutupnya pintu-pintu keimanan bagi mereka, Allah berfirman, “jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka” yaitu yang bersifat nyata. Ini merupakan sebuah tindakan agar mereka takut, dan peringatan dari hukuman dunia, agar mereka berhati-hati lalu mengambil pelajaran dari sebagian kejahatan dan kemunafikan mereka. “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” Dia tidaklah lemah terhadap apa pun, dan di antara KuasaNya adalah bahwa apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia lakukan, tanpa ada yang bisa menghalangi dan tanpa ada yang bisa merintangi. Dalam ayat ini ada ayat-ayat yang semisalnya ada sebuah jawaban terhadap golongan al-Qadariyah yang berpendapat bahwasanya perbuatan-perbuatan mereka tidaklah termasuk dalam Kuasa Allah ta’ala, karena perbuatan-perbuatan mereka termasuk bagian dari hal-hal yang masuk dalam firmanNya, “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”
Tafsir Al-Wajiz
Orang-orang munafik itu seperti orang yang menerjang petir, mereka berjalan dalam cahaya namun berhenti dalam kegelapan. Ketika kondisi materi keduniaan mereka membaik, mereka mengambil keuntungan dari kenikmatan-kenikmatan itu. Mereka mengumumkan keimanan mereka dan menegakkan Islam. Akan tetapi ketika mereka mendapatkan cobaan, mereka berhenti berjalan, marah, memakai pakaian kafir mereka dan menunjukkan kemunafikan mereka. Dan Allah berkuasa untuk tidak membuat mereka cacat sedikitpun. Apabila berkehendak, niscaya Dia akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka