Surah Al-Kahfi : Ayat 2
قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا
"sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,"
Tafsir Ringkas Kemenag
Al-qur'an diturunkan sebagai bimbingan yang lurus dan sempurna, tidak berlebihan dan tidak kurang di dalam tuntutan dan hukum-hukumnya, dengan tujuan untuk memperingatkan umat manusia akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya yang menimpa mereka yang tidak percaya, dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang kokoh imannya yang senantiasa mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik, yaitu surga beserta kenikmatannya. Mereka kekal di dalamnya, yakni di dalam surga, untuk selama-lamanya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 1-5 Telah dijelaskan sebelumnya di permulaan kitab tafsir telah bahwa Allah SWT memuji DzatNya Yang Maha Suci pada permulaan dan akhir segala sesuatu. Sesungguhnya Dialah Dzat yang Maha Terpuji dalam semua keadaan; bagiNyalah sesala puji, di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu Dia memuji DzatNya dalam menurunkan KitabNya yang mulia kepada rasulNya yang mulia, yaitu nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah nikmat paling besar yang Dia anugerahkan kepada penduduk bumi, karena dengan itu Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju kepada cahaya, yang mana Allah menjadikannya sebagai kitab yang iurus, tidak ada kebengkokan dan penyimpangan di dalamnya, bahkan Al-Qur'an memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan yang lurus, terang, dan jelas, dan memberikan peringatan terhadap orang-orang kafir serta menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu Allah berfirman: (dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya) yaitu. Allah tidak menjadikannya mengandung kebengkokan, dan penyimpangan, melainkan menjadikannya pertengahan dan lurus. Oleh karena itu Allah berfirman: (sebagai bimbingan yang lurus) yaitu lurus (untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah) bagi orang yang menentangNya, mendustakanNya dan tidak beriman kepadaNya. serta memperingatkan mereka (akan pembalasan yang keras) dan siksaan yang disegerakan di dunia serta ditangguhkan sampai hari akhir (dari sisi Allah) yaitu dari sisi Allah yang berupa siksaan yang tidak ada seorang pun dapat mengazab seperti azabNya, dan tidak ada seorang pun dapat mengikat seperti ikatanNya (dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman) yaitu, dengan Al-Qur'an ini yang imannya dibuktikan dengan amal shalih (bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik) yaitu pahala yang baik dari sisi Allah (mereka kekal di dalamnya) pahala di sisi Allah, yaitu surga yang mereka kekal di dalamnya (untuk selama-lamanya) abadi selamanya, tidak pernah hilang dan habis. Firman Allah: (Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, "Allah mengambil seorang anak” (4)) Ibnu Ishaq berkata,”Mereka adalah orang-orang musyrik Arab, yang berkata,"Kami menyembah malaikat-malaikat, dan mereka adalah anak-anak perempuan Allah" (Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan) yaitu dengan ucapan yang mereka buat-buat dan mereka dustakan dari diri mereka sendiri itu (begitu pula nenek moyang mereka) yaitu para pendahulu mereka, (Alangkah jeleknya kata-kata) yaitu dinasab sebagai tamyiz, bentuknya adalah “Alangkah buruk kalimat mereka ini”. Dikatakan, bahwa ini adalah bentuk takjub, bentuknya adalah,”Alangkah buruknya kata-kata mereka itu”, seperti kamu berkata, "Akrim bi zaidin rajulan" (alangkah mulianya Zaid) Pendapat ini dikatakan sebagian ulama Bashrah, dan sebagian ulama’ qiraah Makkah, yaitu “kaburat kalimatan” sebagaimana dikatakan “Alangkah buruknya ucapanmu” dan “Alangkah buruknya perkaramu” Makna yang dimaksud berdasarkan bacaan mayoritas ulama lebih jelas, bahwa sesungguhnya ungkapan ini untuk ucapan mereka, dan kebohongan mereka yang besar. Oleh karena itu Allah berfirman: (Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka) yaitu tidak berdasarkan kepada suatu bukti apapun melainkan berdasarkan ucapan mereka sendiri yang mereka buat-buat sebagai kedustaan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: (mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta)
Tafsir As-Sa'di
2. FirmanNya, “Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah,” maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Quran ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputusan Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupakan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencelakakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tatkala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Quran, "Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku." (Az-Zumar:16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hambaNya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada mereka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. “Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik,” maksudnya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Quran supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNYa dan kitab-kitabNya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan tersebut telah mewajibkan amal-amal yang shalih bagi mereka. Yaitu, amalan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlasan dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasullullah). “Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik,” yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surge yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat ‘yang baik’ menandakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempurna.
Tafsir Al-Wajiz
2. Sebagai bimbingan yang lurus, tidak ada pembebanan/kezhaliman dalam perintah dan hukum-hukumnya. Untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik berupa surga dan pahala baik.