Tafsir Ringkas Kemenag
Segala puji kita persembahkan hanya untuk Allah semata, tuhan pencipta dan pemelihara seluruh alam, yaitu semua jenis makhluk. Dialah yang maha pengasih, pemilik dan sumber sifat kasih, yang menganugerahkan segala macam karunia, baik besar maupun kecil, kepada seluruh makhluk, maha penyayang yang selalu tiada henti memberi kasih dan kebaikan kepada orang-orang yang beriman.
Tafsir Ibnu Katsir
Para Ulama’ Qira’ah Sab’ah membaca dengan dengan mendhommah huruf "dal”, dan"Alhamdulillah" merupakan susunan mubtada’ dan khabar. Abu Ja'far bin Jarir berkata bahwa makna "Alhamdulillah" adalah ungkapan rasa syukur yang tulus kepada Allah dengan mengesampingkan sesuatu yang disembah selain Dia, dan semua yang Dia ciptakan. atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmat yang tak terhitung jumlahnya, yang tak akan bisa dihitung oleh siapapun, guna memperbaiki washilah untuk taat kepadaNya dan menguatkan bagian-bagian tubuh para hamba untuk menjalankan kewajiban-kewajibanNya, serta (rasa syukur) atas rizki yang Dia limpahkan kepada mereka dan kenikmatan hidup diberikan kepada mereka, walaupun di antara mereka tidak pantas menerimanya, juga (rasa syukur) atas peringatan dan ajakanNya kepada untuk menghadap kepadaNya berupa sebab-sebab yang mengantarkan kepada keabadian di tempat tinggal yang penuh kenikmatan yang kekal. Maka segala puji hanya milik Tuhan kami, atas semua itu, dari awal sampai akhir. Abu Nasr Isma'il bin Hammad Al-Jauhari mengatakan bahwa "Alhamdu" adalah lawan dari “celaan”. Anda mengatakan: "Aku memuji seseorang dengan pujian yang pantas dan terpuji, sehingga dia sangat terpuji". Kata "Tahmid" lebih hiperbola dari kata "Alhamdu", sedangkan kata "Alhamdu" lebih umum daripada kata "Asy-syukru". Dia berkata “Asy-Syukru” adalah memuji orang yang berbuat baik atas sesuatu yang telah diketahui, Dikatakan: "Aku berteima kasih kepadanya” (syakartuhu) dan “Aku berterima kasih kepadanya” (Syakartu lahu). Kalimat yang menggunakan “lam” lebih baik. Ka’b bin Al-Ahbar berkata: “Alhamdulillah” adalah pujian kepada Allah. Penggunaan huruf "Alif" dan “Lam” dalam "Alhamdulillah" mencakup segala bentuk dan jenis pujian bagi Allah SWT, sebagaimana terdapat dalam hadis: 'Ya Allah, segala puji bagiMu, seluruh kerajaan milikMu, seluruh kebaikan berada di tanganMu, dan hanya kepadaMu segala urusan kembali'" Dan "Ar-Rabbu" adalah raja dan pengatur segala sesuatu. Dalam bahasa, istilah ini digunakan untuk tuan dan pengurus untuk perbaikan sesuatu. Semua itu benar bila merujuk kepada Allah SWT. Kata "Ar-Rabbu" hanya digunakan untuk Allah. Namun, kita dapat menggunakan kata tersebut dengan memberikan penambahan, misalnya "Rabbu ad-daar" (tuan rumah) atau "Rabbu kadza" (tuan dari sesuatu). Sedangkan, kata "Ar-Rabb” saja, hanya digunakan untuk menyebut Allah SWT. Bahkan disebutkan bahwa "Ar-Rabb” adalah namaNya yang paling agung. Kata “Al-‘alamin” merupakan bentuk jamak dari "’alam" yang berarti makhluk selain Allah SWT Kata “’Alam” merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki bentuk tunggal dari lafadznya. “Al-‘awalim” adalah seluruh jenis makhluk di langit, daratan, dan lautan. Setiap masa dan generasi disebut sebagai alam juga. Dari Ibnu Abbas: bahwa Allah adalah Tuhan bagi jin dan manusia. Begitu juga Sa'id bin Jubair, Mujahid, dan Ibnu Juraij berkata demikian. Al-Qurtubi mendukung pendapat ini dengan dalil dari firman Allah SWT (agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam( (Surah Al-Furqan: 1), dan mereka itu jin dan manusia. Al-Farra' dan Abu Ubaidah berkata bahwa alam mencakup makhluk yang memiliki akal, yaitu manusia, jin, malaikat, dan setan. Dan binatang tidak disebut “alam”. Zaid bin Aslam, Abu Amr bin al-Ala, dan Abu Muhaishin menyatakan bahwa “alam” adalah segala sesuatu yang memiliki ruh yang bergerak. Qatadah menyatakan bahwa Tuhan semesta alam adalah mencakup setiap jenis alam. Az-Zajjaj menyatakan bahwa “alam” mencakup segala sesuatu yang diciptakan Allah di dunia dan akhirat. Al-Qurtubi berkata bahwa yang benar yaitu mencakup seluruh alam semesta, sebagaimana firman Allah: (Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" (23) Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayaiNya"(24)) (Surah Asy-Syu’ara) Kata "Alam” berasal dari akar kata “’Alamah”. Saya berkata demikian karena kata “’Alam” merupakan pengetahuan yang menunjukkan tentang keberadaan pencipta dan pembuatnya, dan keesaan Allah; sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu al-Mu'tazz: Aduhai bagaimana Tuhan bisa diingkari dan bagaiamana para pembangkang mendustakanNya Padahal di setiap sesuatu terdapat tanda yang menunjukkan bahwa Dia itu Maha Esa
Tafsir As-Sa'di
Lafaz Alhamdu lillah (segala puji bagi Allah), ini merupakan Sanjungan bagi Allah dengan sifat-sifatnya yang sempurna, dan perbuatan-perbuatannya yang mencakup antara Fadilah dan keadilan. bagi Allah segala puji yang sempurna dengan segala jenisnya. Lafaz robbil ‘alamin (yang mengurus sekalian alam), Robb artinya yang mengurus seluruh alam (selain Allah) yang telah Allah ciptakan. Allah telah persiapkan untuk mereka sarana-sarana dan Allah memberi nikmat kepada mereka dengan nikmat yang agung yang seandainya Jika mereka kehilangan nikmat itu maka tidak mungkin mereka bisa terus ada bertahan hidup. tidak ada nikmat yang mereka dapatkan kecuali dari Allah ta'ala. Pemeliharaan Allah kepada makhluk ada dua jenis, yaitu: Pertama :pemeliharaan umum yaitu dengan Allah menciptakan makhluk dan memberi mereka rezeki serta Hidayah untuk kemaslahatan mereka yang dengan itu mereka bisa tinggal di dunia. Kedua : pemeliharaan khusus, yaitu pemeliharaan Allah bagi para kekasihnya. maka Allah memberi pemeliharaan kepada mereka dengan iman dan Taufik dan menyempurnakannya bagi mereka dan mencegah mereka dari kejahatan dan segala penghalang antara mereka dengan Allah. Hakikat nya adalah pemeliharaan bimbingan taufik untuk melakukan kebaikan yang menjaga dari segala keburukan. bisa jadi ini merupakan rahasia dari makna lafaz robb sebagaimana terjadi bacaan doa-doa para nabi dengan memakai kalimat "robb". permintaan Para nabi masuk di bawah pemeliharaan yang khusus. Maka firman Allah robbil ‘alamiin (Robb sekalian alam) menunjukkan kepada keesaan Allah dalam penciptaan pengaturan pemberi nikmat dan kesempurnaan kekayaannya dan juga kesempurnaan kebutuhan seluruh makhluk kepada Allah dalam segala bentuk dan sudut pandang.
Tafsir Al-Wajiz
Pujian lisan dan hati (tercurah) atas kesempurnaan nikmat Allah. (Dialah) Sebenar-benar Dzat yang disembah, Pengayom alam semesta yang terdiri dari manusia, jin, malaikat, dan setan, sekaligus Raja dan Pengatur urusan-urusan mereka. Dialah Dzat yang paling berhak menerima segala pujian hati maupun lisan
Tafsir Al-Mishbahul
MAKNA AL-HAMDU Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Makna alhamdulillah adalah bersyukur kepada Allah semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, buka juga kepada makhluk yang telah Dia ciptakan, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada para hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya. Kenikmatan dan anugerah berupa kemudahan berbagai sarana untuk manta’ati-Nya, dan anugerah berupa fisik untuk dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban dari-Nya. Selain itu Dia telah memberikan rizki kepada mereka di dunia serta melimpahkan berbagai macam kenikmatan dalam hidup mreka, yang sebenarnya mereka sama sekali tidak memiliki jak atas hal itu. pelimpahan nikmat ini disertai dengan peringatan dan seruan kepada mereka agar menggunakan nikmat-nikmat itu sebagai sebab-sebab yang dapat membawa mereka kepada kekekalan hidup di Surga, tempat segala macam kenikmatan yang abadi. Hanya bagi Allah segala puji, di awal maupun di akhir. Ibnu Jarir mengatakan: “ Alhamdulillah merupakan pujian Allah bagi diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya agar mereka memuji-Nya, seolah-olah Dia mengatakan: ‘Ucapkanlah al-hamdulillah.’” Ada yang mengatakan bahwa ucapan alhamdulillah adalah pujian bagi Allah dengan Nama-Nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Adapun ucapan ¬as-syukru lillaah adalah pujian bagi-Nya atas segala nikmat dan pertolongan-Nya. PERBEDAAN ANTARA AL-HAMDU DAN ASY-SYUKRU Dari hasil kajian menunjukkan bahwa antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Al-hamdu lebih umum dari asy-syukru jika dilihat dari objek keduanya, karena al-hamdu ¬bisa dikaitkan dengan sifat-sifat al-laazimah (transitif), dan juga al-muta’addiyah (intransitif) seperti perkataanmu: (aku memujinya karena sifatnya yang ksatria) dan bisa juga engkau mengatakan: (aku memujinya karena kedermawanannya). Di satu sisi al-hamdu lebih khusus karena ia hanya bisa diungkapkan dalam bentuk ucapan semata. Adapun asy-syukru lebih umum dari al-hamdu karena ia bisa diungkapkan melalui ucapan, perbuatan, ataupun niat. Ia lebih khusus dari al-hamdu karena hanya berkaitan dengan sifat-sifat muta’addiyah. Anda bisa mengucapkan: (aku berterima kasih kepadanya karena sifatnya yang ksatria). Namun anda juga bisa mengatakan: (aku bersyukur kepadanya karena kedermawanan dan kebaikannya kepadaku). Demikianlah yang disimpulkan oleh sebagian ulama muta’akhirin. Wallahu a’lam. Abu Nashr Isma’il bin Hammad al-Jauhari mengatakan: “Al-hamdu adalah lawan dari adz-dzammu (celaan). Engkau mengatakan: ‘Aku memuji seorang laki-laki dengan sebuah pujian’ (hamdan atau mahmadah). Orang yang memuji disebut hamiid dan yang dipuji disebut mahmuud. Kata at-tahmiid lebih dalam maknanya dibanding al-hamdu. Al-hamdu lebih umum dari asy-syukru. Beliau mengatakan bahwa asy-syukru adalah pujian atas orang yang berbuat kebaikan karena kebaikan yang ia lakukan. Dikatakan: Syakartuhu atau syakartu lahu (aku bersyukur kepadanya). Yang menggunakan huruf lam itu lebih fasihh. Adapun perkataan al-madhu lebih umum dari kata al-hamdu, karena al-hamdu bisa ditujukan kepada orang yang masih hidup ataupun sudah mati dan juga kepada benda mati. Sebagaimana al-madhu ditunjukan kepada makanan, tempat dan lain sebagainya. Ia bisa diberikan sebelum mendapat kebaikan ataupun setelahnya atas sifat muta’addi maupun lazim. BEBERAPA PENDAPAT SALAF TENTANG AL-HAMDU Diriwayatkan oleh selain Abu Ma’mar, dari Hafsh ia berkata: “Umar berkata kepada Ali dan para Sahabat berada di sisinya: “Kami telah mengetahui tentang laa ilaaha illallah, subhaanallah dan Allahu Akbar. Lalu apa al-hamdulillah itu?” Maka Ali menjawab:” Ia adalah kalimat yang disukai Allah ta’ala bagi diri-Nya dan Dia meridhainya bagi diri-Nya serta menyukai kalimat itu diucapkan.” Ibnu Abbas berkata: “Alhamdulillah adalah kalimat syukur. Apabila seorang hamba mengucapkan alhamdulillah, maka Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. BEBERAPA KEUTAMAAN AL-HAMDU Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari’, ia berkata: “Aku berkata kepada Nabi : ‘Wahai Rasulullah, maukah engkau aku puji dengan segala pujiann seperti yang aku berikan kepada Rabb-ku tabaaraka wa ta’aala?” Maka beliau menjawab: “Tidak!. Adapun Rabb-mu sesungguhnya Dia menyukai al-hamdu.” Diriwayatkan juga oleh imam an-Nasa’i. Diriwayatkan oelh Abu ‘Isa al-Hafizh at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadits Musa bin Ibrahim bin Katsir, dari Thalhah bin Kharrasy dari Jabir bin Abdillah , ia berkata: “Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah kalimat laa ilaaha illallaah, dan sebaik-baik do’a adalah al-hamdulillah.” At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan ghorib. Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik , ia berkata: “Rasulullah bersabda: : . “Tidaklah Allah menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan ¬al-hamdulillah, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik dari apa yang diambil-Nya.” Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda kepada mereka: : . : : : : ! : “Sesungguhnya seorang hamba dari hamba-hamba Allah mengucapkan: ‘ Ya Allah Rabb-ku, segala puji bagi-Mu sebagaimana yang layak bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu. ‘Maka hal itu membingungkan dua Malaikat, mereka tidak tahu bagaimana mencatatnya, maka keduanya naik ke langit menemui Allah, seraya berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan sebuah ucapan yang kami tidak tahu bagaimana mencatatnya. ‘Maka Allah bertanya -dan Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya: ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?’ Kedua Malaikat itu menjawab: ‘Wahai Rabb, dia mengatakan, ‘Bagi-Mu segala puji sebagaimana kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu. “Maka Allah berfirman: ‘Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamb-Ku, hingga ia bertemu dengan-Ku lalu Aku memberinya balasan karenanya.” ALIF LAM PADA KATA AL-HAMDU UNTUK ISTIGHRAQ Alif lam pada kata al-hamdu berfungsi untuk istighraq yaitu mencakup segala jenis dan bentuk pujian hanya bagi Allah semata. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Ya Allah, bagi-Mu segala pujian seluruhnya, dan bagi-Mu seluruh kerajaan. Di tangan-Mu seluruh kebaikan dan kepada-Mu kembali segala urusan.” ARTI AR-RABB Ar-Rabb adalah yang memiliki dan mengatur. Menurut bahasa, kata Rabb ditunjukkan kepada tuan dan kepada siapa yang mengatur untuk memperbaiki. Semua itu benar bagi Allah Ta’ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain Allah, kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya rabbud daar (pemilik rumah). Sedangkan nama ar-Rabb (secara mutlak) hanya boleh digunakan oleh Allah Azza wa jalla. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah al-Ismul A’zham (Nama Allah yang paling agung). ARTI AL-‘AALAMIIN Al-‘aalamiin adalah bentuk jamak (banyak) dari ‘aalam yang berarti segala sesuatu yang ada selain Allah . ‘Aalam adalah bentuk jamak yang tidak memiliki betuk mufrod (tunggal). Al-‘aalamin berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi , daratan maupun lautan. Setiap kurun atau generasi juga disebut ‘aalam. Al-Farra’ dan Abu ‘Ubaid mengatakan: “Al-‘aalam adalah sebuah ungkapan bagi sesuatu yang berakal, yakni manusia, jin,malaikat dan syaitan. Sedangkan hewan tidak disebut alam. Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dan Abu Muhaishin: “Al-‘aalam adalah segala sesuatu yang memiliki ruh dan hidup bergerak.” Qatadah berkata: “(Rabbil ‘aalamiin) maka ‘aalamin adalah seluruh bagian alam.” Al-Zajjaaj berkata: “Al-‘aalam adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia maupun di akhirat.” Al-Qurthubi berkata: “Inilah yang benar, karena ia mencakup seluruh alam (dunia dan akhira), sebagaimana firman Allah : # “Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?” Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". (QS. Asy-Syu’araa:23-24) ALASAN PENAMAAN ‘AL-‘AALAM Kata al-‘aalam terbentuk (musytaq) dari kata al-‘allaamah. Saya (Ibn Katsir) katakan: “Sebab, alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Sang Pencipta serta menunjukkan keesaan-Nya.”