Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah Allah menjelaskan bahwa kesadaran tidak lagi berguna setelah berakhirnya kehidupan dunia, maka Allah menyuruh rasul-Nya agar teguh pendirian dan agar memohonkan ampunan untuk para pengikutnya. Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha kamu mencari bermacam-macam keperluan hidupmu di dunia dan mengetahui tempat tinggalmu untuk beristirahat setelah engkau bekerja sepanjang hari. 20. Pada ayat-ayat yang lalu disebutkan sikap orang munafik, orang kafir dan orang beriman ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an tentang akidah, seperti keimanan kepada kesesaan Allah, kebangkitan dan sebagainya. Pada ayat berikut disebutkan sikap mereka pada waktu mendengar ayat-ayat Allah tentang perintah berjihad di jalan Allah. Orang-orang beriman selalu menungu-nunggu perintah berjihad, bahkan mereka ingin perintah itu dinyatakan dengan tegas. Dan orang-orang yang beriman berkata, 'mengapa tidak ada suatu surah yang kandungannya berisi tentang perintah jihad yang diturunkan agar kami mengamalkan dan mengikuti perintahnya'' sedangkan bagi orang-orang munafik, bila diturunkan ayat yang mewajibkan mereka berjihad, mereka bersikap ingkar dan penuh rasa takut. Maka apabila ada suatu surah diturunkan yang jelas maksudnya dan di dalamnya tersebut perintah perang, engkau wahai nabi Muhammad, melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit kemunafikan atau lemah imannya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan sehingga matanya terbelalak karena takut mati menimpa mereka. Tetapi itu lebih pantas bagi mereka. (catatan : sebagian ulama memaknai 'fa awla lahum' dengan 'maka kecelakaanlah bagi mereka'. Ayat ini seakan-akan menyatakan orang yang demikian lebih baik mati daripada hidup tidak taat kepada perintah agama).
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 16-19 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang munafik dalam kebodohan dan kurangnya pemahaman mereka, mengingat mereka sering duduk bersama Rasulullah SAW dan mendengarkan ucapannya, tetapi mereka tidak dapat memahami apapun darinya. Dan apabila mereka keluar darinya (mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan) sahabat-sahabat nabi ('Apakah yang dikatakannya tadi?") yaitu artinya baru saja. Mereka tidak dapat memahami apa yang dikatakan Nabi SAW karena mereka tidak memperhatikannya. Lalu Allah SWT berfirman: (Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka) yaitu mereka tidak mempunyai pemahaman yang benar dan tujuan yang benar. Kemudian Allah berfirman: (Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka) yaitu orang-orang yang mencari petunjuk. Allah memberi taufik dan petunjuk kepada mereka, serta meneguhkan pendirian mereka pada jalan petunjuk itu dan menambahkan kepada mereka petunjuk itu (dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya) yaitu, memberikan ilham yang membimbing mereka. Kemudian Allah berfirman: (Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba) yaitu sedangkan mereka dalam keadaan lalai darinya (karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya) yaitu tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya kiamat. Sebagaimana firmanNya SWT: (Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu (56) Telah dekat terjadinya hari kiamat (57)) (Surah An-Najm), (Telah dekat (datangnya) saat itu dan bulan telah terbelah (1)) (Surah Al-Qamar) dan (Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya) (Surah An-Nahl: 1) serta (Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya) (1)) (Surah Al-Anbiya’) Maka pengutusan Rasulullah SAW merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat, karena beliau adalah penutup para rasul yang melalui beliau Allah SWT menyempurnakan agama dan menegakkan hujjahNya kepada semua umat. Dan sungguh Rasulullah SAW memberitahukan tentang tanda-tanda dan syarat-syarat hari kiamat, bahkan beliau menjelaskannya dengan keterangan yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi pun sebelumnya. Kemudian Allah SWT berfirman: (Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?) yaitu bagaimanakah dengan kesadaran orang-orang kafir itu apabila hari kiamat datang kepada mereka, ketika tidak ada gunanya lagi bagi mereka hal itu. Sebagaimana firmanNya: (dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya) (Surah Al-Fajr: 23) dan (dan (di waktu itu) mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah, " bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu? (52)) (Surah Saba’) Firman Allah (Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah) Ini adalah pemberitahuan dari Allah SWT bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, dan bukan sebagai pemberitahuan mengenai hal itu agar diketahui. Oleh karena itu di'athafkan kepadanya firmanNya: (dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan) Firman Allah SWT: (Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu) yaitu mengetahui tingkah laku kalian di siang hari dan di saat kalian berada di dalam tempat tinggal kalian di malam hari. Sebagaimana firmanNya: (Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari) (Surah Al-An'am: 60) dan (Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) (6)) (Surah Hud) Pendapat ini adalah yang dipilih Ibnu Jarir
Tafsir As-Sa'di
19. Dalam ilmu harus ada pengakuan hati dan mengetahui makna yang diharuskan oleh apa yang diketahui, dan secara sempurnanya adalah mengamalkan keharusannya. Inilah ilmu yang diperintahkan oleh Allah, yaitu ilmu tentang memahaesakan Allah. Ilmu ini wajib hukumnya atas setiap orang dan tidak bisa gugur bagi siapa pun juga, bahkan semua orang sangat memerlukannya. Ada beberapa cara untuk mengetahui tidak ada sesembahan kecuali Allah; 1. Dan ini paling penting, adalah merenungkan nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan Allah yang menunjukkan pada kesempurnaan, keagungan, serta keluhuranNya. Semua itu mengharuskan kita mencurahkan tenaga guna menuhankan dan menyembah Rabb Yang Mahasempurna, yang hanya bagiNya semua pujian, keluhuran, dan keindahan. 2. Mengetahui bahwa hanya Allah sendiri yang menciptakan dan mengatur, sehingga dengan demikian akan diketahui hanya Dia semata yang berhak disembah. 3. Mengetahui bahwa hanya Allah semata yang memberi nikmat, baik yang lahir maupun batin, baik nikmat Agama (akhirat) maupun dunia, karena hal itu mengharuskan kita untuk menggantungkan hati kita, mencintaiNya dan hanya menuhankanNya, yang tiada sekutu bagiNya. 4. Apa pun yang kita lihat dan dengar tentang pahala bagi para wali Allah yang menegakkan tauhid seperti pertolongan, nikmat yang disegerakan, hukuman bagi para musuh-musuhnya yang menyekutukan Allah, dan lainnya, karena semua itu akan mendorong kita untuk mengetahui bahwa hanya Allah semata yang berhak atas semua bentuk ibadah. 5. Mengetahui sifat-sifat berhala dan sekutu-sekutu yang disembah bersama Allah dan dijadikan sebagai sembahan-sembahan, di mana semua berhala dan sekutu itu kurang dari berbagai hal; dirinya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dan memerlukan pertolongan dari yang lain, tidak memiliki kuasa apa pun pada dirinya dan para penyembahnya, baik memberikan manfaat maupun mara bahaya, tidak memiliki kuasa atas kematian, kehidupan dan pembangkitan. Mereka tidak bisa memberikan pertolongan kepada para penyembahnya dan sama sekali tidak bisa memberi manfaat meski sekecil biji atom pun, baik memberikan kebaikan ataupun mencegah bahaya. Mengetahui hal ini mengharuskan kita untuk mengetahui bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, serta batilnya semua sesembahan selain Allah. 6. Sesuai dan sepakatnya kitab-kitab suci Allah atas hal itu. 7. Manusia-manusia khusus adalah makhluk yang paling sempurna dari segi akhlak, akal, pandangan, kebenaran, dan ilmu, mereka adalah para rasul, nabi, ulama Rabbani yang menyaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang wajib disembah kecuali Allah. 8. Dalil-dalil penciptaan langit serta yang terdapat di dalamnya dan penciptaan jiwa (ufuqiyyah dan nafsiyyah) yang menunjukkan keesaan Allah merupakan dalil terbesar yang dengan Bahasa yang ada menyerukan apa pun yang disematkan Allah dalam penciptaan tersebut, mulai dari kelembutan ciptaanNya, kesempurnaan hikmahNya, dan keajaiban-keajaiban ciptaanNya. Itulah berbagai cara yang diserukan oleh Allah kepada para makhluknya secara berulang-ulang bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Cara-cara itu disebutkan Allah dalam kitabnya dan diulang-ulang. Ketika seseorang merenungkan sebagiannya, pasti akan muncul keyakinan dan ilmu tentang hal itu. Lantas bagaimana jika semua dalil-dalil tauhid dari berbagai hal terkumpul menjadi satu? Pada saat itulah keimanan seorang hamba akan semakin kokoh dan mengetahui secara yakin laksana kekokohan gunung yang tidak bisa digoncang oleh berbagai syubhat dan khayalan. Semakin banyak dan berulangnya kebatilan serta syubhat hanya akan semakin menumbuh-kembangkan serta menambah kesempurnaan iman. Demikianlah, jika engkau membaca dalil agung dan hal besar, yaitu merenungkan al-Quran yang agung serta merenungkan ayat-ayatnya. Itulah pintu terbesar untuk mengetahui tauhid yang bisa dipahami secara terperinci dan garis besar, di mana tidak akan didapatkan pada selain al-Quran. Firman Allah, “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu,” yakni mintalah ampunan atas dosamu pada Allah dengan melakukan amalan yang bisa mendatangkan ampunan seperti bertaubat, berdoa agar diberi ampunan, melakukan berbagai kebaikan yang bisa melebur kesalahan dan dosa, meninggalkan dosa, dan memaafkan orang-orang yang bersalah. “Dan,” mintakan ampunan juga “bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan,” karena iman mereka, baik lelaki maupun perempuan memiliki hak, dan di antara hak mereka adalah didoakan agar dosanya diampuni. Karena Rasulullah diperintahkan untuk mendoakan ampunan bagi orang-orang yang beriman yang mencakup penghapusan dosa serta hukuman dari mereka, maka diharuskan juga untuk memberikan nasihat pada mereka, membuat mereka senang terhadap kebaikan seperti halnya dirinya sendiri cinta pada kebaikan, membuat mereka membenci keburukan, memerintahkan mereka pada sesuatu yang terdapat kebaikannya untuk mereka, melarang mereka dari apa-apa yang bisa membahayakan mereka, memaafkan keburukan serta aib mereka, berusaha untuk bersatu dengan mereka, agar hari mereka bisa saling menyatu sehingga rasa dengki yang bisa menyulut permusuhan dan perpecahan bisa lenyap dari hati mereka yang bisa memperbanyak dosa dan kemaksiatan. “Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha,” yakni, gerak-gerik kalian, pergi dan kedatangan kalian “dan tempat tinggalmu,” yakni, dimana kalian menetap. Allah mengetahui kalian, baik di kala bergerak maupun diam, sehingga akan memberikan balasan untuk kalian secara sempurna.