Surah Saba : Ayat 19
فَقَالُوا۟ رَبَّنَا بَٰعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ فَجَعَلْنَٰهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَٰهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
"Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur."
Tafsir Ringkas Kemenag
Maka sebagai bukti keingkaran mereka atas nikmat-nimat Allah itu, mereka berkata, 'ya tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, yakni jarak antarwilayah dan antarnegara, agar perjalanan menjadi panjang sehingga tidak banyak orang yang masuk ke negara kami dan orang-orang miskin tidak mampu menempuh jarak tersebut karena keterbatasan kendaraan mereka. Dengan begitu kami dapat memonopoli hasil negeri kami dan perdagangan, sehingga keuntungan kami lebih besar. "dan tanpa mereka sadari, permintaan tersebut justru menjadikan mereka menzalimi diri mereka sendiri karena mengakibatkan tertutupnya akses perdagangan antarnegara. Maka akibat kedurhakaan itu kami jadikan mereka bahan pembicaraan bagi generasi sesudah mereka dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga mereka bertebaran ke berbagai daerah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur. 20. Kedurhakaan kaum saba' membuktikan betapa iblis mampu me-realisasikan sumpahnya di hadapan Allah ketika dia terkutuk akibat membangkang perintah Allah untuk bersujud kepada nabi adam. 'dan sungguh, iblis telah dapat meyakinkan dengan berbagai tipu daya terhadap mereka, anak-cucu nabi adam, tentang kebenaran sangkaannya bahwa dia mampu menjerumuskan manusia ke jalan kesesatan, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin yang kuat keimanannya (lihat juga: ''d/38: 82'83).
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 18-19 Allah SWT menyebutkan apa yang mereka dapatkan berupa kenikmatan, kemewahan hidup, kesenangan, negeri yang makmur, tempat-tempat yang aman, dan kota-kota yang saling berdekatan satu sama lain yang penuh dengan pepohonan, tanaman, dan buah-buahan, sehingga orang yang mengadakan perjalanan di antara mereka tidak perlu membawa bekal dan air, bahkan di mana pun dia istirahat maka dia menjumpai air dan buah-buahan. dia dapat beristirahat siang hari di suatu kota, lalu menginap di kota lainnya sesuai keadaan yang mereka butuhkan dalam perjalanan mereka. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya) (beberapa negeri yang berdekatan) yaitu jelas dan terang yang dikenal oleh semua musafir yang mana mereka beristirahat siang di suatu kota, lalu menginap di kota lain. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan) yaitu, Kami menjadikannya sesuai dengan yang diperlukan oleh para musafir itu (Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman) yaitu keamanan yang mereka dapatkan dalam perjalan mereka di malam dan siang hari (Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami.” dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) ulama lain membacanya (ba’’id baina asfaarinaa), demikian itu karena mereka menjadi congkak karena nikmat itu, bahwa mereka lebih menyukai menempuh jalan padang pasir dan daerah-daerah yang tidak berpenghuni, yang untuk menempuhnya diperlukan membawa bekal dan unta kendaraan dalam keadaan panas dan di tempat-tempat yang menakutkan, sebagaimana yang diminta Bani Israil dari nabi Musa, yaitu hendaknya dia memohon kepada Allah untuk menumbuhkan untuk mereka tumbuhan yang berupa sayur-mayurnya, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya. Padahal mereka berada dalam kehidupan yang makmur dengan Manna dan Salwa dan apa yang mencukupi kehidupan mereka berupa, makanan, minuman, dan pakaian. Oleh karena itu nabi Musa berkata kepada mereka: ("Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta." Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas) (Surah Al-Baqarah: 61) Allah SWT berfirman tentang tentang mereka(Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, " dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) yaitu karena kekafiran mereka (maka Kami jadikan mereka buah tutur dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya) yaitu, Kami menjadikan mereka sebagai cerita bagi manusia yang menceritakan kisah-kisah mereka, bagaimana Allah menimpakan azabNya kepada mereka dan mencerai-beraikan persatuan mereka setelah bersatu dalam naungan kehidupan yang makmur, mereka menyebar di berbagai negeri, di sini dan di sana. Oleh karena itu bangsa Arab berkata tentang tercerai-berainya suatu kaum,"Tercerai-berai seperti tercerai-berainya dan hancur berantakannya kaum Saba, mereka tercerai-berai kemana-mana" Firman Allah: (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur) yaitu sesungguhnya pada peristiwa yang telah menimpa mereka berupa pembalasan dan azab Allah, pengubahan nikmat, dan pelenyapan kemakmuran itu sebagai siksaan karena apa yang mereka lakukan berupa kekafiran dan dosa-dosa, itu benar-benar terdapat pelajaran dan petunjuk bagi setiap orang yang bersabar dalam menghadapi musibah, dan bersyukur atas nikmat-nikmat.
Tafsir As-Sa'di
15-19. Saba’ adalah satu kabilah (suku bangsa) yang sangat populer yang terletak di pesisir negeri Yaman, dan daerah tempat tinggal mereka disebut Ma’rib. Di antara karunia Allah dan kemurahanNya kepada manusia secara umum dan kepada bangsa Arab khususnya adalah bahwasanya Allah menceritakan di dalam al-Quran sejarah-sejarah orang-orang yang dibinasakan dan di azab dari kalangan penduduk yang bertetangga dengan bangsa Arab, dan sisa-sisanya masih bisa disaksikan dan sejarahnya dipindah dari mulut ke mulut agar hal itu lebih mudah untuk membenarkan dan mudah untuk menerima nasihat, seraya berfirman, “Sungguh bagi kaum Saba’, di tempat kediaman mereka” maksudnya, di daerah tempat mereka tinggal “ada tanda.” Tanda di sini adalah nikmat yang berlimpah ruah yang Allah limpahkan kepada mereka, dan dijauhkannya mereka dari berbagai bencana, yang sebenarnya (hal ini) menuntut mereka untuk beribadah kepada Allah dan bersyukur kepadaNya. Kemudian ayat ini dijelaskan dengan FirmanNYa, “Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” Mereka memiliki lembah air yang sangat besar yang selalu di aliri air hujan, dan mereka membuat bendungan yang sangat kuat yang menjadi tempat penampungan air. Aliran air hujan selalu mengalir kepadanya hingga terbendunglah di sana air yang sangat besar. Dari bendungan itu mereka mengalirkannya ke kebun-kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri bendungan itu; dan kebun-kebun itu mendatangkan buah-buahan yang mencukupi kebutuhan mereka sehingga mereka merasa senang dan bahagia. Kemudian Allah memerintahkan kepada mereka untuk mensyukuri nikmatNya yang telah Dia limpahkan kepada mereka dari berbagai sisi: 1. Kedua kebun itulah yang menjadi pokok mata pencaharian mereka. 2. Allah menjadikan negeri (daerah) mereka sebagai negeri yang baik karena cuacanya yang sangat baik, minimnya area perkebunan yang jelek dan berlimpah ruahnya rizki di dalamnya. 3. Allah menjanjikan kepada mereka jika mereka bersyukur kepadaNya, bahwa Dia akan mengampuni dan merahmati mereka; maka dari itu Allah berfirman, “(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.” 4. Ketika Allah mengetahui kebutuhan mereka kepada tanah (negeri) yang diberkahi dalam perniagaan dan usaha mereka, (secara zhahir bahwa negeri ini adalah kota di Shan’a, sebagaimana dikatakan oleh banyak kaum salaf. Ada yang berpendapat bahwa negeri tersebut adalah negeri Syam), maka Allah menyediakan untuk mereka segala fasilitas yang dengannya mereka mudah untuk sampai kepadanya dengan sangat mudah, seperti adanya rasa aman, tidak ada rasa takut dan berentetannya perkampungan penghubung antara mereka dengan negeri tersebut sehingga mereka tidak merasakan adanya kesulitan dalam membawa bekal dan barang-barang perniagaan. maka dari itu Allah berfirman, “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan padanya perjalanan,” maksudnya, perjalanan yang bisa diprediksikan kadarnya, mereka mengenalnya dan menguasainya hingga mereka tidak tersesat darinya, siang dan malam hari. “Dengan aman,” maksudnya dengan tenang dalam perjalanan pada malam dan siang hari tanpa ada rasa takut. Ini merupakan kesempurnaan nikmat Allah terhadap mereka, yaitu Allah memberikan rasa aman dari rasa takut. Namun kemudian mereka berpaling dari Sang Pemberi nikmat dan dari beribadah kepadaNya, mereka mengingkari nikmat dan merasa jemu hingga mereka menuntut dan berangan-angan agar perjalanan –perjalanan jauh (safar) mereka menjadi semakin jauh dari perkampungan yang di sana sebenarnya perjalanan sudah menjadi mudah; “dan mereka menganiaya diri mereka sendiri,” dengan mengingkari Allah dan nikmatNya. Oleh karena itu, mereka disiksa oleh Allah karena nikmat yang telah membuat mereka congkak ini. Maka Allah membinasakan mereka dan menimpakan terhadap mereka “banjir bandang.” Maksudnya, banjir bandang yang sangat kuat yang memporak porandakan bendungan mereka dan merusak kebun-kebun yang penuh dengan tanaman yang sangat menakjubkan dan pohon-pohon yang berbuah, dan sebagai gantinya adalah pohon-pohon yang tidak ada gunanya. Maka dari itu Allah berfirman, “Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi tumbuhan yang berbuah,” maksudnya, sesuatu yang sedikit dari makanan yang tidak menggembirakan mereka, yaitu “(tumbuhan yang berbuah) pahit, pohon Atsl (sejenis cemara), dan sedikit pohon Sidr (sejenis bidara).” Ini semua adalah pohon yang sudah dikenal; dan ini berasal dari salah satu jenis perbuatan mereka, sebagaimana mereka menukar kesyukuran yang baik dengan kekufuran yang busuk; maka mereka mengganti kenikmatan tersebut dengan apa yang disebutkan tadi. Maka dari itu Allah berfirman, “Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka, dan Kami tidak menjatuhkan azab, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” Maksudnya, tidaklah Kami membalas dengan balasan siksaan –berdasarkan susunan kalimat- kecuali kepada orang yang kafir kepada Allah dan mengingkari nikmat. Setelah musibah melanda mereka, maka mereka tercerai-berai dan tercabik-cabik setelah dahulu mereka bersatu, dan Allah menjadikan mereka sebagai bahan pembicaraan yang dibicarakan manusia dan menjadi dongeng masyarakat di malam hari, dan mereka dijadikan pribahasa: “bercerai-berailah seperti tangan-tangan kaum Saba’.” Jadi, setiap orang membicarakan apa yang terjadi terhadap mereka, akan tetapi tidaklah mengambil pelajarannya dari mereka “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur,” sabar dalam menghadapi hal-hal yang dibenci dan berbagai cobaan, ia mengembannnya untuk mendapat ridha Allah, tidak menggerutu karenanya, akan tetapi dia sabar menghadapinya; lagi bersyukur atas nikmat Allah dan mengakuinya, dan memuji Allah yang telah mengaruniakannya, serta menggunakannya dalam ketaatan kepadaNYa. Orang seperti itu, apabila dia mendengar sejarah mereka dan apa yang mereka lakukan dan apa yang menimpa mereka, maka ia tahu bahwa siksaan (hukuman) itu adalah sebagai balasan atas kekafiran mereka terhadap nikmat Allah; dan siapa yang berbuat seperti perbuatan mereka, niscaya akan diperlakukan seperti apa yang diperlakukan terhadap mereka, dan bahwa bersyukur kepada Allah itu memelihara nikmat dan menolak bencana, serta bahwa para utusan Allah itu benar dalam apa yang mereka sampaikan, dan bahwa sesungguhnya balasan itu adalah haq sebagaimana dia telah melihat contohnya di dunia ini.
Tafsir Al-Wajiz
19. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami: yaitu daerah yang perjalanannya membutuhkan waktu lama. Dari Yaman menuju Syam. Mereka telah mendhalimi diri mereka dengan kekufuran dan kemaksiatan. Maka telah Kami jadikan mereka sebagai cerita untuk orang sesudah mereka. Para manusia membicarakan berita tentang mereka. Sesungguhnya Allah telah menjawab mereka dengan merusak daerah tengah. Maka tidak ada yang sanggup melakukan perjalanan tersebut kecuali orang kaya yang mempunyai onta yang kuat yang mampu membawa air. Orang-orang miskin tidak akan mampu melakukannya. Maka perdagangan tersebut menjadi khusus untuk orang-orang kaya saja. Kami cerai beraikan mereka dari negeri tempat tinggal mereka. Sehingga sampai diberikan permisalan: Kabilah Saba’ telah bercerai berai. Sesungguhnya pada semua itu terdapat pelajaran dan berbagai bukti yang jelas bagi setiap hamba yang senantiasa bersabar untuk menjauhi maksiat dan melakukan ketaatan, juga yang memperbanyak syukur atas segala nikmat.