Surah Al-Ankabut : Ayat 19
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ كَيْفَ يُبْدِئُ ٱللَّهُ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."

Tafsir Ringkas Kemenag
Dan apakah mereka lengah sehingga tidak memperhatikan bagaimana Allah senantiasa memulai penciptaan semua makhluk, termasuk manusia, dari tiada. Setelah Allah menciptakan mereka kemudian dia meng-ulanginya kembali setelah hancur dan binasa dengan mengembalikan penciptaan itu seperti semula. Sungguh, mengembalikan penciptaan yang demikian itu sangatlah mudah bagi Allah. Jika demikian, bagaimana mereka mengingkari pengembalian manusia hidup kembali kelak di hari kemudian'20. Meski sudah sangat banyak bukti kekuasaan Allah dan keniscayaan hari akhir yang dikemukakan, Allah memerintahkan nabi Muhammad, katakanlah wahai rasul, kepada orang-orang yang mendustakan kebangkitan setelah kematian, 'berjalanlah di muka bumi ke mana saja kaki berjalan, maka perhatikanlah dengan segera bagaimana Allah memulai penciptaan makhluk yang beraneka ragam, kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir dengan membangkitkan manusia setelah mati kelak di akhirat. Sungguh, Allah mahakuasa atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 19-23 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang nabi Ibrahim bahwa dia memberi petunjuk mereka untuk membuktikan adanya hari kebangkitan yang mereka ingkari melalui apa yang mereka saksikan di dalam diri mereka sendiri, yaitu bahwa Allah menciptakan mereka yang pada sebelumnya sesuatu yang tidak pernah ada, kemudian mereka diadakan dan menjadi manusia yang dapat mendengar dan melihat. Maka Dzat yang memulai penciptaan itu mampu mengembalikannya hidup, dan sesungguhnya hal itu mudah dan ringan bagiNya. Kemudian nabi Ibrahim memberi petunjuk kepada mereka tentang hal itu melalui segala sesuatu yang mereka saksikan di cakrawala berupa berbagai tanda kekuasaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, yaitu langit dan bintang-bintang yang ada padanya, baik yang bersinar, yang tetap, dan yang beredar. Serta bumi dan tanah-tanah membentang, gunung-gunung, lembah-lembah, tanah datar yang terbuka, hutan-hutan, pepohonan, sungai-sungai, buah-buahan, dan lautan; semua itu menunjukkan keadaannya, dan menunjukkan adanya Dzat yang menciptakannya, mengadakan, dan memilihnya. Dzat yang berfirman terhadap sesuatu,"Jadilah," maka terjadilah hal itu. Oleh karena itu dia berkata. (Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulangi­nya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (19)) sebagaimana firmanNya: (Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya) (Surah Ar-Rum: 27) Kemudian Allah SWT berfirman: (Katakanlah, "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi) yaitu hari kiamat (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) Kedudukan ini serupa dengan firman Allah SWT: (Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar) (Surah Fushshilat: 53) Firman Allah SWT: (Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya) yaitu, Dialah Dzat yang menentukan dan mengatur yang berbuat apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia inginkan, tidak ada yang menghalangi keputusanNya, dan tidak ada yang meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang Dia perbuah, melainkan mereka­lah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Hanya milikNyalah semua makhluk dan semua urusan, apa yang Dia lakukan hanyalah keadilan, karena Dialah yang Maha Merajai yang tidak pernah berbuat zalim bahkan seberat dzarrah. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan (21)) yaitu dikembalikan pada hari kiamat. Firman Allah SWT: (Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit) yaitu, tidak ada seorang pun dari kalangan penduduk langit dan bumi yang bisa melemahkanNya, bahkan Dia Maha Perkasa atas semua hambaNya. Segala sesuatu takut dan butuh kepadaNya, sedangkan Dia tidak membutuhkan kepada selainNya. (dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah (22) Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan denganNya) yaitu mereka ingkar dan kafir kepada hari kebangkitan (mereka putus asa dari rahmat-Ku) yaitu, tidak ada bagian bagi mereka dari rahmatKu (dan mereka itu mendapat azab yang pedih) yaitu menyakitkan dan keras di dunia dan akhirat
Tafsir As-Sa'di
19. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya kembali,” pada Hari KIamat? “SEsungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah” seperti telah difirmankan oleh Allah, "Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya." (Ar-Rum: 27).
Tafsir Al-Wajiz
19. Apakah mereka tidak melihat dan mengetahui bagaimana Allah memulai penciptaan manusia, hewan dan tumbuhan, kemudian menghidupkan kembali manusia setelah mati dan tiada. Sesungguhnya yang demikian itu mudah dan gampang bagi Allah. Barang siapa yang mampu menciptakan sesuatu pertama kali maka dia juga mampu mengembalikannya. Dia hal itu sama bagiNya. Kata {Yarau} di sini bermakna ya’lamu (mengetahui) dan hamzah istifham itu berfaedah inkary dan nafi. Dan jika digabungkan dengan nafi yang sebenarnya yaitu {Lam} maka akan berfungsi untuk menunjukkan informasi, yaitu untuk memastikan bahwa merka benar-benar melihat (mengetahui). Kalimat yang serupa yaitu {Alam Nashrah}

Sumber tafsir dari tafsirweb.com