Surah Ali Imran : Ayat 188
لَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَوا۟ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا۟ بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا۟ فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ ٱلْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih."
Tafsir Ringkas Kemenag
Jangan sekali-kali kamu, wahai rasulullah, meyakini dan mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan meskipun yang mereka lakukan itu perbuatan dosa atau maksiat sekali pun dan mereka suka dipuji dengan membanggakan diri atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Mereka, yakni orang-orang yahudi, menutupi berita yang disampaikan nabi, kemudian mereka menyampaikan berita itu kepada orang lain dengan mengatasnamakan dirinya, sehingga di mata orang lain merekalah yang paling paham tentang isi kitab suci. Apa yang mereka lakukan tersebut adalah demi mengharapkan pangkat dan kedudukan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, jangan sekalikali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab lantaran Allah telah menghapus pahala dari hasil usahanya dan membatalkan amalnya, karena mereka telah berbuat bohong. Mereka akan mendapat azab yang pedih akibat perbuatan dosa yang mereka lakukandan milik Allah-lah seluruh kerajaan langit dan bumi dengan segala isinya, dan Allah mahakuasa atas segala sesuatu terhadap ciptaan-Nya dengan memberinya kehidupan dan rezeki, mengatur, mematikan, membalas, dan menghitung setiap amal perbuatan manusia.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 187-189 Ini adalah teguran dan ancaman bagi Ahli Kitab yang mana Allah telah mengikat perjanjian dengan mereka melalui lisan para nabi agar mereka beriman kepada nabi Muhammad SAW dan mengumumkan kehadirannya di antara manusia, agar mereka siap mengikuti perintahnya. Tapi, ketika Allah mengutusnya agar mereka mengikutinya, mereka malah menyembunyikan hal tersebut dan mengganti apa yang mereka janjikan berupa kebaikan di dunia dan akhirat dengan hal rendah yang sepele, dan keuntungan dunia yang remeh. Seburuk-buruk kesepakatan yang mereka lakukan, dan seburuk-buruk pertukaran yang mereka lakukan. Dalam hal ini, terdapat peringatan bagi para ulama dari mengikuti jejak mereka, sehingga membuat mereka ditimpa sesuatu yang telah menimpa Ahli Kitab, dan agar mereka berusaha keras untuk menyebarkan apa yang ada pada mereka berupa ilmu yang bermanfaat yang menunjukkan kepada amal yang baik, dan tidak menyembunyikan sedikitpun dari hal itu. Hal iti terdapat pada hadits yang diriwayatkan melalui beberapa jalur dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda “Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu dan menyembunyikannya, dia akan diikat dengan pelana api di hari kiamat” Firman Allah: (Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa) yaitu dengan hal itu, yaitu orang-orang yang melebih-lebihkan sesuatu yang bukan diberikan untuk mereka. Firman Allah: (janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa) dibaca dengan huruf “ta’ mukhathabah” yang menunjukkan bentuk mufrad, dan dengan huruf “ta’” untuk memberi berita tentang mereka, yaitu Janganlah mereka mengira bahwa mereka akan selamat dari azab, sebaliknya azab itu pasti menimpa mereka. Oleh karena itu Allah SWT berfirman (dan bagi mereka siksa yang pedih) Kemudian Allah SWT berfirman: (kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu (189)) yaitu bahwa Dialah Pemilik segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada satupun yang bisa melemahkanNya, Jadi takutlah kepada Allah, janganlah menentangNya, dan hindarilah kemurkaan dan azabNya. Karena Dialah Dzat yang Maha Agung, tidak ada yang lebih agung dariNya, lagi Maha Kuasa, tidak ada yang lebih kuasa dariNya."
Tafsir As-Sa'di
188. “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan,” yaitu berupa keburukan dan kebatilan perkataan maupun perbuatan, “dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerajakan,” maksudnya, (dipuji) dengan kebaikan yang tidak mereka kerjakan dan kebenaran yang belum mereka katakan. Mereka telah menyatukan antara perbuatan buruk dan perkataan buruk, serta gembira akan hal tersebut dan suka akan pujian terhadap perbuatan baik yang belum mereka kerjakan. “Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa,” maksudnya, berposisi selamat dan bebas, akan tetapi mereka berhak mendapat siksa, dan mereka akan menuju kepadanya. Karena itu Allah berfirman, “Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih.” Termasuk dalam ayat yang mulia ini adalah ahli Kitab yang bergembira dengan sesuatu yang ada pada mereka berupa ilmu, namun mereka tidak tunduk kepada Rasul, dan mereka menyangka bahwa merekalah yang benar dalam kondisi riil dan pandangan hidup mereka. Demikian juga setiap orang yang berbuat bid’ah, baik perkataan maupun perbuatan, dan senang dengannya, lalu mengajak orang kepadanya, dan menyangka bahwa dia benar dan selainnya batil, sebagaimana umumnya terjadi pada ahli-ahli bid’ah. Ayat ini dengan pemahamannya menunjukkan bahwa barangsiapa yang suka dipuji dan disanjung dengan apa yang telah diperbuatnya berupa kebaikan dan mengikuti kebenaran, apabila tujuannya bukanlah ingin dilihat (riya’) dan didengar (sum’ah), maka hal tersebut tidaklah tercela. Bahkan hal ini termasuk perkara yang dianjurkan, yang telah Allah kabarkan bahwa Allah akan memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dalam perkataan maupun perbuatan, dan bahwa Allah akan memberikan balasan terhadap hamba-hambaNya yang dicintaiNya, dan mereka memohon hal itu kepadaNya; seperti perkataan Ibrahim, "dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian," -Asy-Syuara:84- Dan Allah berfirman “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." -Ash-Shaffat:79-80- Hamba-hamba dari Yang Maha Rahman berkata," dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." -Al-Furqan:74- Itu semua adalah nikmat Sang Pencipta atas hamba-hambaNya, di mana itu semua membutuhkan sikap syukur.
Tafsir Al-Wajiz
188. Wahai Nabi, jangan sampai kamu mengira orang yang bergembira dengan perbuatan mereka berupa menyesatkan manusia, mencoba memalingkan mereka dari Islam, dan senang bila manusia memuji mereka atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, yaitu berpegang pada kebenaran. Mereka itu berada dalam kesesatan. Maka janganlah kamu menyangka mereka itu akan selamat dari siksa di neraka Jahanam. Dan bagi mereka itu azab yang pedih disana. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Auf bahwa Marwan berkata kepada pelayannya: “Wahai Rafi’, temuilah Ibnu Abbas dan tanyakanlah hal sebagai berikut, “Jika setiap orang yang pernah merasa gembira dengan apa yang dimilikinya dan suka untuk dipuji terhadap hal yang tidak pernah dia lakukan akan diazab (kelak di akhirat), niscaya tidak akan ada seorang pun dari kita yang selamat dari azab?” Ibnu Abbas menjawab: “Kalian tidak termasuk dalam (ancaman) ayat ini. Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk ahli kitab, yang mana mereka ditanya Nabi SAW tentang sesuatu, lalu mereka menyembunyikan jawabannya dari Nabi, dan memberitahu hal lain. Lalu mereka pergi dan beranggapan bahwa mereka telah memberikan jawaban yang benar, dan berharap mendapatkan pujian atas jawaban tersebut, dan merasa senang dengan tindakan menyembunyikan jawaban itu.