Surah Al-Qasas : Ayat 17
قَالَ رَبِّ بِمَآ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِّلْمُجْرِمِينَ
"Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”."
Tafsir Ringkas Kemenag
Puji syukur atas segala anugerah dan nikmat Allah selama ini juga dia panjatkan dengan berkata, "ya tuhanku! demi dan disebabkan nikmat yang selama ini telah engkau anugerahkan kepadaku sejak dalam perut ibu hingga tobat dan pengampunan-Mu ini, serta aneka nikmat lainnya, maka demi semua itu aku berjanji tidak akan menjadi penolong bagi orang-orong yang berdosa dalam melakukan perbuatan jahat, "18. Karena pembunuhan tak disengaja yang dilakukan oleh musa itu, dia menjadi ketakutan berada di kota tempat terjadinya perkelahian dan pembunuhan itu sambil menunggu dengan perasaan cemas dan khawatir akibat yang akan diterima dari perbuatannya. Tiba-tiba orang lbrani yang kemarin meminta pertolongan yakni pada hari terjadinya perkelahian dan pembunuhan terhadap orang mesir, berteriak meminta pertolong-an lagi kepadanya. Tapi kali ini mengecam dan menghardiknya. Musa berkata kepadanya, "engkau sungguh, orang yang nyata-Nyata sesat. ".
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 14-17 Setelah menyebutkan permulaan perkara nabi Musa, Allah menyebutkan ketika dia sudah dewasa dan matang. Dia menganugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu. Mujahid berkata yaitu kenabian (Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) Kemudian Allah SWT memberitahukan tentang penyebab yang mengantarkannya kepada apa yang ditakirkan Allah kepadanya berupa kenabian dan diajak berbicara olehNya, yaitu terlibat dalam pembunuhan orang Qibti yang menyebabkan keluarnya dia dari negeri Mesir menuju ke negeri Madyan. Maka Allah SWT berfirman: (Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah) (maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi) yaitu keduanya saling memukul dan memaki (yang seorang dari golongannya) yaitu kalangan Bani Israil (dan seorang (lagi) dari musuhnya) yaitu dari kaum Qibti. Pendapat ini diktakan Ibnu Abbas, Lalu orang Bani Israil meminta tolong kepada nabi Musa, dan nabi Musa mendapati kesempatan saat orang-orang lengah. Lalu dia mendekati orang Qibti itu (lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu) Mujahid berkata bahwa makna (wakazahu) adalah memukulnya dengan kepalan tangannya Yakni dalam pukulan itu menjadi penyebab kematiannya, maka matilah dia (Musa berkata, "Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)” (15) Musa mendoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri. Karena itu, ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (16) Musa berkata, "Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku”) yaitu sebagai sesuatu yang Engkau berikan kepadaku berupa kedudukan, kemuliaan, dan nikmat (aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong) yaitu penolong (bagi orang-orang yang berdosa) yaitu orang-orang yang ingkar kepadaMu dan menentang perintahMu
Tafsir As-Sa'di
15-17. “Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah,” bisa jadi saat tidur siang atau waktu-waktu lainnya yang saat itu mereka beristirahat tidak berkeliaran, “maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi.” Maksudnya, bertengkar dan saling memukul. “Yang seorang dari golongannya,” maksudnya berasal dari Bani Israil, “dan seorang (lagi) dari musuhnya,” bangsa Qibthi. “Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya,” sebab dia telah terkenal dan diketahui oleh banyak orang bahwa dia (Musa) berasal dari Bani Israil. Dan permintaan pertolongannya kepada Musa adalah salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Musa sudah mencapai usia yang cukup ditakuti dan dijadikan andalan dari kerajaan dan kesulitan. “Lalu Musa meninjunya.” Maksudnya, dia meninju orang yang berasal dari musuhnya unttuk memenuhi permintaan tolong orang yang berdarah Bani Israil itu, “dan matilah musuhnya itu.” Musa telah menewaskannya dengan tinjuannya itu karena kerasnya dan kekuatan Musa. Lalu Musa menyesali perbuatannya itu, dan “berkata, ‘Ini adalah perbuatan setan’,” yakni: Rayuan dan bisikannya. “Sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata,” maka dari itu aku melakukan apa yang telah terlanjur aku lakukan disebutkan permusuhannya yang sangat nyata dan upaya kerasnya menyesatkan. Lalu dia meminta ampun seraya “berkata, ‘Ya Rabb ku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah, DIa-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” terutama kepada orang-orang yang tunduk kembali kepadaNya, yaitu orang-orang yang segera kembali kepadaNya, yaitu orang-orang yang segera kembali bertaubat, seperti yang telah dilakukan oleh Musa. Maka Musa “berkata, ‘Ya Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku’,” yaitu berupa taubat, ampunan dan berbagai nikmat yang sangat banyak, “aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong,” maksudnya pembela dan pembantu “bagi orang-orang yang berdosa.” Maksudnya, aku tidak akan menolong seorang pun untuk kemaksiatan. Ini adalah janji dari Musa, disebabkan karena karunia Allah atas dirinya yaitu tidak akan menolong seorang yang berbuat dosa sebagaimana telah dia lakukan dalam pembunuhan terhadap orang yang berdarah Qibthi tersebut. Ini mengartikan bahwa berbagai kenikmatan itu menuntut hamba untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Tafsir Al-Wajiz
17. Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tidak akan menjadi penolong atas perbuatan dosa orang-orang yang durhaka."