Surah Al-A'raf : Ayat 166
فَلَمَّا عَتَوْا۟ عَن مَّا نُهُوا۟ عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ

"Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina."

Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah menjelaskan ancaman siksa dan kebinasaan untuk para pendurhaka, pada ayat ini Allah menguraikan tentang kebinasaan mereka, maka setelah mereka bersikap amat sombong dan melampaui batas terhadap segala apa yang dilarang, dan hati mereka semakin keras membatu, mereka terus melakukan berbagai pelanggaran, sementara azab yang pedih tidak membuat mereka jera. Lalu kami katakan kepada mereka, jadilah kamu kera yang hina, lagi terkutuk. Allah jadikan mereka seperti layaknya kera. Hati mereka berubah seperti kera yang tak dapat memahami kebenaran, dan'seperti halnya kera'mereka pun dijauhkan dari berbagai bentuk kebaikan. Atau boleh jadi, mereka betul-betul menjadi kera yang hina. Begitulah siksa dan kebinasaan yang dialami oleh sebagian kelompok bani israil. Siksa itu akan terus berlanjut selama mereka dalam kedurhakaan. Memerintahkan hal-hal yang perlu diingat, Allah menyatakan, dan ingatlah, ketika tuhanmu wahai nabi Muhammad memberitahukan melalui para nabi-Nya, kepada nenek moyang mereka bahwa sungguh, dia yang mahakuasa itu akan mengirim dari suatu tempat orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka, yaitu orang yahudi yang durhaka, sampai hari kiamat karena mereka telah berbuat zalim dan fasik. Sesungguhnya tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, terhadap orang-orang kafir dan siksa itu pasti terlaksana dalam waktu dekat, sebab setiap sesuatu yang bakal terjadi itu sebenarnya telah dekat. Dan meski demikian, sesungguhnya dia juga maha pengampun bagi siapa pun yang memohon ampunan-Nya dan maha penyayang bagi mereka yang bertobat dan kembali menaati-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 164-166 Allah SWT memberitahukan tentang penduduk kota ini. Mereka menjadi tiga kelompok: Satu kelompok melanggar larangan dan memakai tipu muslihat dalam berburu ikan pada hari Sabtu, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah; dan satu kelompok yang melarang perbuatan itu dan memisahkan diri dari mereka, serta kelompok yang diam saja, dimana mereka tidak melakukan pelanggaran dan tidak melarangnya, tetapi mereka berkata kepada kelompok yang melarang perbuat itu: (Mengapa kalian menasehati kaum itu, yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?) yaitu kenapa kalian melarang mereka. Sebenarnya kalian sudah tahu bahwa mereka akan binasa dan berhak mendapat hukuman dari Allah. Maka larangan kalian itu tidak bermanfaat bagi mereka. Maka kelompok yang melarang perbuatan itu menjawab perkataan mereka, (Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian) sebagian ulama’ membacanya dengan dirafa’ dan bentuknya seakan-akan ini adalah ini (hadzihi ma’dziratun) “adalah alasan” dan ulama’ lain membacanya dengan dinashab yaitu kami melakukan itu (Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian) dalam janji yang telah diambil atas kami untuk memerintahkan sesuatu yang baik dan melarang kemunkaran (dan supaya mereka bertakwa) Mereka berkata,"Mudah-mudahan dengan larangan ini mereka takut terhadap perbuatan mereka dan meninggalkan perbuatan itu, serta kembali bertaubat kepada Allah. Jika mereka bertaubat kepada Allah, maka Dia menerima taubat mereka dan merahmati mereka" Allah SWT berfirman: (Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka) yaitu, ketika orang-orang yang diberi nasehat itu menolak (Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim) yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan itu (siksaan yang keras) Allah menegaskan atas pertolongan bagi orang-orang yang melarang itu dan membinasakan orang-orang yang zalim, dan mengabaikan orang-orang yang diam, karena setiap pembalasan itu akibat dari suatu amal perbuatan. Mereka tidak layak mendapat pujian dan tidak pula melakukan dosa besar yang berhak untuk dicela. Terkait hal itu, para imam berbeda pendapat tentang mereka. Apakah mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan atau orang-orang yang selamat. Hal ini terdapat dua pendapat. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah (Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, "Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang keras?”) itu adalah kota di tepi laut antara Mesir dan Madinah, Kota itu disebut dengan Ailah. Allah mengharamkan mereka berburu ikan pada hari Sabtu, dan ikan-ikan itu datang kepada mereka pada hari Sabtu dengan muncul di tepi laut. Dan jika hari Sabtu sudah lewat, mereka tidak mampu menangkapnya. Hal itu berlangsung sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian ada kelompok di antara mereka yang menangkap ikan itu pada hari Sabtu, lalu ada kelompok lain dari mereka yang melarangnya dan berkata,"Kalian menangkap ikan-ikan itu, padahal Allah telah mengharamkannya bagi kalian pada hari Sabtu?!" Tetapi hal itu tidak menambah apapun melainkan kesesatan dan kesombongan mereka. dan ada kelompok lain dari mereka yang melarang kelompok yang memberi nasehat ketika hal itu berlangsung cukup lama, mereka berkata,"Kalian sudah mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang berhak mendapat azab Allah” (Mengapa kalian menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka) Mereka adalah orang-orang yang paling marah karena Allah terhadap orang yang melanggar itu daripada kelompok lainnya, jadi mereka menjawab (Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertakwa) Masing-masing dari kedua kelompok telah melarang mereka. Ketika murka Allah menimpa kelompok yang melanggar itu, maka diselamatkanlah kedua kelompok yang berkata (Mengapa kalian menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka") dan orang-orang yang berkata ("Agar kami mempunyai alasan (terlepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian) dan Allah membinasakan orang-orang yang durhaka kepadaNya yang menangkap ikan itu, lalu Dia membuat mereka menjadi kera. Firman Allah SWT: (dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras) Di dalamnya dapat dipahami bahwa orang-orang yang tersisa adalah orang-orang yang selamat. Kata (ba’is) mempunyai jenis bacaan yang banyak, dan maknanya menurut Mujahid adalah keras Firman Allah: (Yang hina) yaitu hina, rendah, dan tercela
Tafsir As-Sa'di
166 “maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya” yakni hati mereka keras menolak dan tidak mau menerima nasihat. ”kami katakan kepadanya” dengan perkataan sebagai takdir. ”jadilah kamu kera yang hina” mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNYa.
Tafsir Al-Wajiz
166 Maka tatkala mereka bersikap sombong dan melampaui batas, mereka mengerjakan larangan maka Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu keras yang hina.” Mereka dihinakan, dihalangi dan dijauhkan dari segala kebaikan, atau tingkah mereka laksana kera yang dihinakan.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com