Surah At-Taghabun : Ayat 16
فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Tafsir Ringkas Kemenag
Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, Allah memberikan bimbingan. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, karena Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai dengan kesanggupannya; dan dengarlah ayat-ayat Allah, serta taatlah kepada-Nya; dan infakkanlah harta kamu yang baik, yaitu yang diperoleh dengan cara yang halal kepada fakir miskin, karena infak itu hakikatnya untuk diri kamu bekal di akhirat. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran dengan membiasakan diri sejak kecil menjadi dermawan; mereka itulah orang-orang yang beruntung karena baik dan benar dalam mengelola harta yang dititipkan Allah kepada mereka. 17. Orang yang berinfak atau bersedekah itu beruntung karena pada hakikatnya dia meminjamkan hartanya kepada Allah. Allah berfirman, 'jika kamu meminjamkan harta kamu kepada Allah dengan pinjaman yang baik, yakni berinfak dengan harta halal dengan ikhlas, niscaya dia melipatgandakan balasan infak tersebut untuk kamu di dunia dan akhirat; dan mengampuni dosa dan kesalahan kamu. Dan Allah maha menerima syukur hamba-hamba-Nya yang beriman, maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya yang menyantuni makhluk-makhluk Allah. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 14-18 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan tentang istri-istri dan anak-anak, bahwa di antara mereka ada yang menjadi musuh suami dan orang tuanya, yaitu karena di antara mereka ada yang melalaikannya dari amal shalih, sebagaimana firmanNya: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (9)) (Surah Al-Munafiqun) Oleh karena itu di sini Allah berfirman: (maka berhati-hatilah kamu) Ibnu Zaid berkata bahwa maknannya adalah maka berhati-hatilah terhadap agama kalian. Mujahid berkata tentang ayat: (sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu) dia berkata karena mendorong seseorang untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat terhadap Tuhannya, sehingga laki-laki itu tidak bisa melakukan apapun selain menaatinya karena kecintaannya Firman Allah SWT (Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar (15)) Allah SWT berfirman bahwa sesungguhnya harta dan anak-anak itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi makhlukNya, agar dapat diketahui siapa yang taat dan durhaka kepadaNya. Firman Allah: (di sisi Allah-lah) yaitu pada hari kiamat ada pahala yang agung. Sebagaimana Allah berfirman: (Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (14)) (Surah Ali Imran) dan ayat setelahnya. Firman Allah SWT (Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu) yaitu kemampuan kalian, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Apabila aku perintahkan kepada kalian suatu perkara, maka kerjakanlah hal itu sesuai kesanggupanmu; dan apa saja yang aku larang kepada kalian, maka tinggalkanlah” Sebagian mufasir berkata bahwa sebagaimana yang diriwayatkan Malik dari Zaid bin Aslam, dia berkata bahwa ayat ini menasakh ayat yang ada di dalam surah Ali Imran, yaitu firmanNya: (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102)) (Surah Ali Imran) Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair tentang firman Allah: (bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam) dia berkata ketika ayat ini diturunkan, kaum muslim beramal dengan sekuat-kuatnya. Mereka terus-menerus mengerjakan shalat sehingga tumit mereka bengkak dan kening mereka bernanah. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk meringankan mereka kepada orang-orang muslim: (Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu) Maka ayat ini menasakh ayat yang pertama. Telah diriwayatkan juga hal yang semisal dari Abu Al-Aliyah, Zaid bin Aslam dan Qatadah. Firman Allah: (dan dengar serta taatlah) yaitu jadilah orang-orang yang tunduk kepada apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya kepada kalian, dan janganlah kalian menyimpang darinya baik ke kanan maupun ke kiri. Dan janganlah mendahului Allah dan RasulNya, janganlah pula kalian tertinggal dari apa yang Dia perintahkan kepada kalian. Dan janganlah mengerjakan apa yang Dia larang kepada kalian. Firman Allah: (dan nafkahkanlah nafkah yang baik untukmu) yaitu belanjakanlah sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepada kalian kepada kerabat, orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan orang-orang yang membutuhkan. Dan berbuat baiklah kepada sesama makhluk Allah sebagaimana Allah berbuat baik kepada kalian, maka hal itu lebih baik bagi kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian tidak melakukannya, maka menjadi keburukan bagi kalian di dunia dan akhirat. Firman Allah: (Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung) Tafsir ini telah dikemukakan dalam surah Al-Hasyr, dan telah disebutkan hadits-hadits yang berkaitan tentang makna ayat ini, sehingga tidak perlu diulangi lagi. Segala puji bagi Allah Firman Allah SWT (Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu) yaitu apa pun yang kalian belanjakan, maka Dia akan menggantikannya; dan apa pun yang kalian sedekahkan, maka Dialah yang akan membalas pahalanya. Hal ini diungkapkan dengan pengertian pinjaman, sebagaimana yang terdapat dalam hadits shahih Bukhari Muslim, bahwa Allah SWT berfirman dalam hadis Qudsi: "Barang siapa yang memberi pinjaman dengan tidak berbuat zalim dan menghabiskannya". Oleh karena itu Allah SWT berfirman, (Dia akan melipatgandakan pahalanya bagimu) sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah melalui firmanNya: (maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak) (Surah Al-Baqarah: 245) (dan mengampuni kamu) yaitu Dia menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian. Oleh karena itu Allah berfirman: (Dan Allah Maha Mensyukuri) yaitu membalas amal yang sedikit dengan pahala yang banyak (lagi Maha Penyantun) yaitu Dia memaafkan, mengampuni, menutupi dan menghapus dosa-dosa, kesalahan-kesalahan, keburukan-keburukan, dan kejahatan-kejahatan (Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (18)) Tafsir ayat ini telah disebutkan sebelumnya beberapa kali.
Tafsir As-Sa'di
16. Allah memerintahkan para hambaNya agar bertakwa padaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedangkan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur. Kaidah syariah ini mencakup cabang-cabang masalah yang tidak terhitung jumlahnya. Allah berfirman, “Dan dengarlah,” maksudnya dengarkan nasihat Allah dan syariat yang diberlakukan pada kalian berupa hukum-hukum. Lakukan dan taatlah padaNya, “serta taatlah” pada Allah dan RasulNya pada semua gerak-gerik kalian, “dan nafkahkanlah” berupa nafkah-nafkah syari yang wajib dan yang sunnah, niscaya amal baik kalian itu berguna bagi kalian di dunia dan akhirat, karena seluruh kebaikan itu terletak pada menunaikan semua perintah Allah, menerima nasihat-nasihatNya dan tunduk pada syariatNya, dan (sebaliknya) seluruh keburukan itu terletak pada pembangkangan perintah Allah. Namun ada bencana yang menahan orang untuk menunaikan nafkah yang diperintahkan, yaitu sifat kikir yang banyak terdapat dalam watak manusia. Sifat ini membuat orang mencintai harta dan amat tidak menyukai untuk dikeluarkan dari tangannya. Untuk itu, siapa pun yang dijaga Allah “dari kekikiran dirinya,” dengan mengizinkan dirinya untuk memberikan nafkah yang bermanfaat baginya, “maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Karena mereka mendapatkan apa yang diinginkan dan selamat dari yang ditakutkan. Lebih dari itu, sepertinya ini mencakup seluruh yang diperintahkan dan yang dilarang. Jika jiwa seseorang bersifat kikir dan tidak tunduk pada perintah Allah, serta tidak mau mengeluarkan hartanya, maka ia tidak akan beruntung tapi akan mendapatkan kerugian di dunia dan di akhirat. Dan jika jiwanya lapang dan tenang terhadap syariat Allah karena ingin mencari keridhaanNya, maka tidak terdapat penghalang antara jiwanya dan perintah yang dibebankan Allah selain pengetahuannya akan perintah tersebut bahwa hal itu mendatangkan ridha Allah. Dengan demikian, ia akan mendapatkan keberuntungan, keberhasilan, dan benar-benar akan mendapatkan kemenangan.
Tafsir Al-Wajiz
16. Bertakwalah kepada Allah dengan menunaikan perintahNya dan menjauhi laranganNya sesuai kesungguhan dan kapasitas kalian, dengarkan dan taatilah apa yang diperintahkan untuk kalian dan nafkahkanlah harta benda kalian di jalan kebaikan. Hal itu lebih baik bagi diri kalian. Barangsiapa menjaga diri dari kekikiran dan kerakusan, mereka semua itu adalah orang yang akan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Ibnu Abu Hatim dari Sa’id bin Jabir berkata: “Ketika ayat {Ittaqullaha haqqa tuqaatih}