Surah Al-Isra : Ayat 16
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَٰهَا تَدْمِيرًا
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."
Tafsir Ringkas Kemenag
Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, yang durhaka sesuai ketetapan kami, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu agar menaati Allah, tetapi mereka tidak mau menaati-Nya, bahkan mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu dengan melakukan penganiayaan dan pengrusakan, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan, yakni ketentuan kami, kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya, sehingga mereka tidak dapat bangkit lagi. Dan sesuai dengan ketetapan itu dinyatakan, berapa banyaknya kaum setelah kebinasaan kaum nuh, telah kami binasakan disebabkan oleh kedurhakaan mereka. Dan cukuplah tuhanmu yang maha mengetahui, maha melihat dosa hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang tersembunyi dan terluput dari pembalasan-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ulama qiraah berbeda pendapat dengan firmanNya (amarna) yang terkenal dibaca takhfif . Para mufasir berbeda pendapat tentang maknanya. Dikatakan bahwa maknanya adalah Kami memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu dengan perintah takdir. Sebagaimana firmanNya: (tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang) (Surah Yunus: 24) dan sesungguhnya Allah tidak menyuruh perbuatan yang keji. Mereka berkata bahwa makna yang dimaksud adalah Allah menundukkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji, maka mereka layak mendapat azab Ibnu Jarir berkata, bisa jadi bahwa maknanya adalah bahwa Kami menjadikan mereka sebagai pemimpin. Saya berkata, bahwa hal ini hanya berdasarkan bacaan orang yang membacanya dengan bacaan (ammarna mutrafiha) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu) bahwa Kami menjadikan orang-orang jahat mereka berkuasa, lalu mereka melakukan kemaksiatan di dalamnya. Ketika mereka melakukan hal itu, Allah membinasakan mereka dengan azab. Hal itu seperti firmanNya: (Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu) (Surah Al-An'am: 123) Demikian juga dikatakan Abu Al-’Aliyah, Mujahid, dan Ar-Rabi' bin Anas Diriwayatkan dari Malik, dari Az-Zuhri tentang firmanNya: (Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) yaitu Kami memperbanyak mereka.
Tafsir As-Sa'di
16. Allah memberitahukan bahwasanya apabila Dia ingin menghancurkan salah satu negeri yang berbuat sewenang-wenang dan meluluhlantahkannya dengan azab sampai tak tersisa, maka Dia akan memberikan perintah kepada orang-orang kalangan mewah mereka dalam bentuk ketetapan takdir (untuk menaati Allah). Lalu mereka berbuat kefasikan sampai tindakan melampaui batas mereka sudah parah “maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami),” yaitu ketentuuan azab (Kami), yang mana tidak ada (seorang pun) yang sanggup menolaknya “kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Tafsir Al-Wajiz
16. Dan jika Kami hendak membinasakan penduduk suatu negeri karena saking beratnya kejahatan mereka, maka Kami akan perintahkan kepada orang-orang yang diberi kenikmatan di dalamnya, yaitu para pemimpin, para pemilik kewenangan dan orang-orang yang memiliki kemuliaan untuk berbuat ketaatan dan kebaikan. Namun mereka menyimpang dari perintah Kami, sehingga azab itu pasti menimpa mereka, lalu Kami binasakan mereka dan Kami robohkan rumah-rumah mereka.