Surah An-Nur : Ayat 15
إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ
"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar."
Tafsir Ringkas Kemenag
Kelompok ayat ini menggambarkan situasi ketika kabar bohong itu tersebar. Ingatlah ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sendiri, bukan dengan isyarat, apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun duduk persoalannya, dan kamu menganggapnya sesuatu yang remeh dan tidak penting, padahal dalam pandangan Allah berita bohong itu adalah soal besar dan perbuatan yang sangat buruk. 16. Dan mengapa kamu tidak berkata dengan tegas dan secara langsung ketika mendengarnya, 'tidak pantas bagi kita membicarakan berita bohong ini, lebih-lebih terhadap istri nabi. Mahasuci engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar. '.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 14-15 Allah SWT berfirman: (Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat) Wahai orang-orang yang mempergunjingkan tentang Aisyah, yang karena itu taubat kalian kepadaNya diterima di dunia dan Dia memaafkan kalian karena keimanan kalian kepada rumah akhirat (niscaya kalian ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kalian tentang berita bohong itu) yaitu sesuatu yang dibuat-buat (azab yang agung) Hal ini terkait orang yang memiliki iman. Dengan itu Allah menerima taubatnya, seperti Misthah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy, saudara perempuan Zainab binti Jahsy. Adapun orang-orang yang mempergunjingkan berita ini dari kalangan orang-orang munafik, seperti Abdullah bin Ubay bin Salul dan teman-temannya; maka mereka bukan termasuk orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini karena mereka tidak memiliki iman dan amal shalih yang mengimbangi kesalahan mereka dan tidak sesuatu yang dapat menghapusnya. Demikianlah perkara yang menyangkut ancaman melakukan perbuatan tertentu, yang bersifat mutlak dan bersyarat, dengan tanpa adanya taubat, atau taubatnya diterima jika dia mempunyai amal shalih yang seimbang dengannya atau lebih berat daripada kesalahannya. Kemudian Allah SWT berfirman: ( (Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut) Mujahid dan Sa'id bin Jubair berkata bahwa makna yang dimaksud adalah sebagian kalian membicarakannya dari yang lain, seseorang berkata,”Aku mendengar berita itu dari Fulan, kemudian Fulan beberkata demikian, dan orang lain dan seterusnya berkata demikian”. Sebagian ulama membaca "Taliqunahu bi alsinatikum" Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari dari ‘Aisyah bahwa dia membaca ayat ini dengan bacaan itu. dia berkata bahwa kata itu berasal dari “walaqa al-lisan” yaitu perkataan dusta yang pelakunya terus berpegang kepadanya. Orang-orang Arab berkata, "Walaqa Fulan fis sairi" yaitu ketika dia meneruskan perjalanannya. Bacaan yang pertama lebih terkenal dan dianut oleh mayoritas ulama. Akan tetapi yang kedua diriwayatkan dari Aisyah. Firman Allah: (dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui) yaitu kalian mengatakan apa yang tidak kalian ketahui. Kemudian Allah SWT berfirman: (dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar) yaitu kalian mengatakan apa yang telah kalian katakan itu tentang ‘Aisyah, sedangkan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan dan tidak berarti. Seandainya yang dijadikan bahan pergunjingan kalian itu bukan istri Nabi SAW, maka hal itu tetap bukan hal yang ringan, terlebih lagi dia adalah istri Nabi SAW yang merupakan pemimpin para nabi. Maka alangkah besar dosanya di sisi Allah jika ada sesuatu yang menyangkut diri istri Nabi dan RasulNya. Karena sesungguhnya Allah SWT cemburu dengan hal itu, sangat jauh dari kemungkinan jika ada istri seorang nabi yang melakukan hal itu. Terlebih lagi yang dijadikan pergunjingan itu adalah penghulu istri-istri para nabi, yaitu istri penghulu anak cucu nabi Adam, baik di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar)
Tafsir As-Sa'di
15. “(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut,” maksudnya, kalian menerima menggunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. “dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga,” dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. “dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja.” Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. “padahal ia pada sisi Allah adalah besar,” ini mengandung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat sebagian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan manfaat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahklan akan melipat gandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
Tafsir Al-Wajiz
15. Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun. Lalu kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal kesalahan itu pada sisi Allah adalah besar.