Surah Ali Imran : Ayat 134
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Tafsir Ringkas Kemenag
Mereka adalah orang yang terus-menerus berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang, mempunyai kelebihan harta setelah kebutuhannya terpenuhi, maupun sempit, yaitu tidak memiliki kelebihan, dan orangorang yang menahan amarahnya akibat faktor apa pun yang memancing kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan akan sangat terpuji orang yang mampu berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat salah atau jahat kepadanya, karena Allah mencintai, melimpahkan rahmat-Nya tiada henti kepada orang yang berbuat kebaikan. Pesan-pesan yang mirip dengan kandungan ayat ini disampaikan pula melalui surah an-nahl/16: 126; asy-syura'/42: 40 dan 43setelah Allah menjelaskan sikap penghuni surga ketika menghadapi orang lain, maka dia menjelaskan sikap mereka terhadap diri sendiri. Mereka adalah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji, yaitu dosa besar yang akibatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, pembunuhan, dan riba, atau menzalimi diri sendiri dalam bentuk pelanggaran apa pun yang akibatnya hanya pada pelaku saja, baik dosa tersebut dilakukan dengan sengaja atau tidak, maka segera mengingat Allah dan bertobat, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Sungguh Allah maha pengampun, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah' dan setelah bertobat mereka tidak meneruskan atau mengulangi perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui dan menyadari akibat buruk dari perbuatan dosa dan menyadarkan mereka untuk segera bertobat.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 130-136 Allah SWT berfirman selagi melarang hamba-hambaNya yang mukmin untuk terlibat dalam riba dan makanannya secara berlipat ganda, sebagaimana mereka dulu berkata pada masa Jahiliyah, “Jika masa hutang telah tiba, maka kamu harus melunasinya, atau kamu mengembangkannya. Jika kamu melunasinya, dan jika tidak maka akan bertambah waktu pembayaran, dan jumlah nilainya. Demikian juga setiap tahun, sehingga hutang yang sedikit berlipat-lipat akan menjadi banyak berlipat-lipat ganda. Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk bertakwa barangkali mereka berhasil baik di dunia maupun di akhirat. Kemudian, Allah mengancam mereka dengan neraka dan memperingatkan mereka akibat dari hal itu. Allah SWT berfirman, (Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (131) Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (132)) Kemudian Allah mengajak mereka untuk melakukan kebaikan dan mendekatkan diri. Lalu Allah berfirman (Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133)) yaitu sebagaimana neraka itu dipersiapkan untuk orang-orang kafir. Dikatakan bahwa makna dari firmanNya (yang luasnya seluas langit dan bumi) yaitu memberi penegasan atas luasnya, sebagaimana Allah berfirman tentang sifat permadani surga (yang sebelah dalamnya dari sutera) (Surah Ar-Rahman: 54) yaitu bagaimana dengan sangkaanmu secara nyata? Dikatakan bahwa lebarnya surga sejajar dengan tingginya, karena surga adalah kubah di bawah 'Arsy. Sesuatu yang berbentuk kubah dan melingkar itu luasnya seperti tingginya. Dalil dari hal tersebut adalah apa yang ada dalam hadits shahih, "Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah kepadaNya surge Firdaus, karena itulah surge paling tinggi, dan paling luas. Di dalamnya sungai-sungai surge mengalir dan atapnya adalah 'Arsy Allah yang Maha Pengasih. Ayat ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Hadid: (Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi) (Surah Al-Hadid: 21). Diriwayatkan dari Thariq bin Syiihab bahwa beberapa orang Yahudi bertanya kepada Umar bin Khattab tentang surga yang luasnya seperti langit dan bumi, lalu mereka bertanya,”Lalu di mana neraka?” Umar berkata kepada mereka, “Bagaimana kalian melihat jika siang datang, di manakah malamnya?”Dan bagaimana jika malam datang, di manakah siangnya?” Mereka berkata, “Hal yang serupa dengan itu telah dihapus dari Taurat.” Kemudian Allah SWT yang menggambarkan sifat-sifat penghuni surga, Lalu Dia berfirman: ((yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit) yaitu baik dalam keadaa sulit maupun mudah, rela maupun terpaksa, sehat maupun sakit di segala keadaan. Sebagaimana Allah berfirman: (Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan)
Tafsir As-Sa'di
134. Kemudian Allah menjelaskan tentang sipat-sipat orang yang bertakwa dan perbuatan-perbuatan mereka seraya berfirman, ”yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, ”yaitu, pada saat kondisi mereka saat sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang, maka mereka akan mempernanyak infak, dan bila mereka sedang kesulitan, maka mereka tidak menganggap remah suatu kebaikan walau hanya sedikit saja. “Dan orang-orang menahan amarahnya, ”yaitu, bila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan terhadapnyayang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang oenuh dengan kedongkalan yang akan menimbulkan balas dendam dengan perkataan maupun perbuatan.Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaanya, akan tetapi mereka menahan apa yang ada di dalam hati mereka di sebabkan kemarahan, dan menghadapi orang yang berbuat jelek kepadanya itu dengan kesabaran. “Dam memaafkan kesalahan orang.”termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaaafkan segala hal yang terjadidari orang yang telah berbuat jelek kepada kita dengan perkataan maupun perbuatan.Memaafkan itu sekedar lebih baik dari pada menhahn amarah, karena memaafkan itu tindakan meninggalkan balas dendam di sertai dengan bentuk kelapang dadaan terhadap orang yang berbuat jelek.itu hanya dapat terjadi pada orang-orang yang menghiasi dirinyadengan ahklak yang terpuji dan jauh daru akhlak yang tercela, dan dari orang-orang yang bertransaksi dengan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah merupakan kasih sayang terhadap mereka dan tindakan baik terhadap mereka, benci dari keburukan yang menimpa merekaagar Allah mengampuni dirinya sehinggga dia mendapatkan pahala di sisi Allah yang maha mulia, dan bukan dari hamba yang miskin, sebagaiman Allah berfirman, "maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syuara:40) Kemudian Allah menyebutkan kondisi yang lebih umum daripada yang lainya dan lebih baik, lebih tinggi dan lebih utama, yaitu berbuat kebaikan Allah berfirman, ”Allah menyukai orang –orang yang berbuat kebaikan.” Kebaikan itu ada dua macam: berbuat baik pada perkara ibadah kepada sang pencipta dan berbuat baik kepada para mahluk. Dan ihsan kepada perkara ibadah kepada sang pencipta telah di tafsirkan oleh NAbi dengan sadbanya, ”Engkau menyembah Allah seaka-akan engakau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya dia melihatmu.” Adapun berbuat baik kepada para makhluk yaitu memberikan manfaat yang bersipat agama maupun duniawi kepada mereka sehingga termasuk dalam kategori itu adalah memerintahkan mereka kepada yang ma'rup dan melarang mereka dari yang mungkar, mengajarkan orang yang bodoh di antara mereka, menasehati masyarakat umum maupun khusus, berusaha menyatukan kalimat mereka, menyalurkan segala macam sedekah, infak yang wajib maupun yang Sunnah kepada mereka dengan perbedaan berbagai kondisi dan karakter mereka. Termasuk juga dalam hal itu adalah mengerahkan kedermawanan hati, menolak keburukan dan bersabar atas ganguan, sebagaimana Allah menjelaskan sipat-sipat orang-orang yang bertakwa dalam ayat ini. Maka barangsiapa yang melaksanakan perkara-perkara tersebut, ia telah menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya. kemudian Allah menyebutkan tentang alasan mereka kepada Tuhan mereka dari kejahatan dan dosa-dosa mereka, seraya berfirman,
Tafsir Al-Wajiz
134 Di antara contoh sifat orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya untuk mencari ridho Allah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dengan bersabar sesuai kemampuan mereka untuk menampakkannya. Sehingga tidak ada satu pun yang terzalimi.. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com