Surah Al-Baqarah : Ayat 134
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْـَٔلُونَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan."
Tafsir Ringkas Kemenag
Mereka itulah umat yang telah lalu, jauh sebelum kamu, yang tidak kamu saksikan. Mereka berpegang teguh pada wasiat itu, sedangkan kamu, wahai kaum yahudi, tidak. Oleh karena itu, baginya, yakni para leluhurmu, apa yang telah mereka usahakan berupa keyakinan yang tulus dan bagimu apa yang telah kamu usahakan dengan mengikuti hawa nafsumu. Mereka tidak ditanya tentang apa yang kamu lakukan, dan kamu pun tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan. Ayat ini erat hubungannya dengan ayat 130 ketika Al-Qur'an mencela mereka yang enggan memeluk islam. Kecaman itu kini dilanjutkan. Dan mereka, orang-orang yahudi dan nasrani, berkata, jadilah kamu penganut yahudi atau penganut nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk. Ini artinya mereka tidak hanya berhenti pada perbuatan sesat mereka, tetapi juga mengajak orang lain untuk sesat bersama mereka. Katakanlah, wahai muham mad, tidak! kami tidak akan mengikutimu! tetapi kami mengikuti agama nabi ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan tuhan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 133-134 Allah SWT berfirman sembari memberikan hujjah kepada orang-orang musyrik Arab yang merupakan keturunan nabi Isma'il dan kepada orang-orang kafir dari Bani Israil (yakni keturunan nabi Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim) bahwa ketika Nabi Ya'qub mendekati ajalnya, dia berwasiat kepada anak-anaknya agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan tidak menyekutukanNya, serta berkata kepada mereka: (“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”). Hal ini adalah bentuk penundukan karena Isma'il adalah paman dari (keturunan) mereka. An-Nuhas menyatakan bahwa dalam bangsa Arab, paman disebut juga sebagai ayah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Qurtubi. Ayat ini munjadi dalil bahwa seorang kakek juga disebut ayah sehingga menutupi identitas saudara-saudaranya. Ini juga disebutkan Bukhari diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas dan Ibnu Zubair. Firman Allah: "(Tuhan) Yang Maha Esa", artinya kami mengesakanNya dengan sifat uluhiyyahNya dan kami tidak menyekutukanNya. (dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya) artinya kami tunduk patuh, menyerahkan diri sepenuhnya. Sebagaimana firman Allah (padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?) (Surah Ali Imran: 83) Islam adalah agama semua nabi, meskipun syariat-syariat mereka berbeda-beda dan pendekatan mereka bervariasi. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku (25)) (Surah Al-Anbiya). Banyak ayat dan hadis yang menguatkan konsep ini, seperti sabda nabi Muhammad SAW: "Kami adalah saudara-saudara para nabi, agama kami satu." Firman Allah SWT: (Itu adalah umat yang lalu) yaitu telah berlalu (baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan) yaitu orang-orang terdahulu yang telah lalu yaitu nenek moyang kalian dari para nabi dan orang-orang shalih yang terdahulu, tidak akan memberikan manfaat bagi kalian hanya karena kalian keturunan mereka, kecuali jika kalian melakukan amal baik yang dapat memberi manfaat untuk diri kalian sendiri, karena mereka memiliki amal perbuatan masing-masing dan kalian pun memiliki amal perbuatan kalian sendiri. (dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan) Abu Al-'Aliyah, Ar-Rabi', dan Qatadah berkata: (Itu adalah umat yang lalu) yaitu nabi Ibrahim, nabi Isma'il, nabi Ishaq, nabi Ya'qub, dan keturunan-keturunan mereka, dan telah diketahui dari beberapa riwayat bahwa siapa yang lambat melakukan amalnya maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya
Tafsir As-Sa'di
134. “Itu adalah umat yang berlalu, ” yakni telah lewat, “baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan.” Maksudnya setiap orang akan mendapatkan (pahala) perbuatannya sendiri, dan setiap orang akan dibalas dengan apa yang telah diperbuatnya, seseorang tidaklah akan disiksa karena dosa orang lain, dan tidaklah akan bermanfaat bagi seseorang, kecuali hanya keimanan dan ketakwaannya. Maka kesibukan kalian terhadap mereka dan anggapan kalian bahwa kalian berada dalam agama mereka dan rela hanya sebatas perkataan semata, adalah perkara kosong belaka yang tidak ada hakikatnya, semestinya kalian memperhatikan kembali kondisi kalian, apakah patut memperoleh keselamatan ataukah tidak?
Tafsir Al-Wajiz
Mereka semua (umat Ibrahim, Ya’qub dan putera mereka) adalah umat terdahulu. Apapun yang telah mereka lakukan adalah tanggungjawab mereka. Adapun engkau (Muhammad) tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas itu semua.