Surah Taha : Ayat 128
أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّنَ ٱلْقُرُونِ يَمْشُونَ فِى مَسَٰكِنِهِمْ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلنُّهَىٰ
"Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal."
Tafsir Ringkas Kemenag
128. Pada ayat-ayat berikut Allah menerangkan peringatan-Nya kepada orang kafir dan enggan mengikuti petunjuk-Nya. Sungguh, semua ancaman itu pasti terjadi, maka tidakkah apa yang terjadi pada kaum kafir terdahulu menjadi petunjuk bagi mereka yang musyrik itu; berapa banyaknya kami membinasakan umat-umat sebelum mereka. Sungguh mengherankan bila mereka tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu, padahal mereka telah berjalan di lokasi tersebut dan melihat bekas-bekas tempat tinggal umat-umat yang dibinasakan itu' 129. Apa yang terjadi pada manusia merupakan akibat perbuatan mereka. Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah diputuskan pada masa terdahulu, yaitu sebelum zaman rasulullah, atau tidak ada ajal dan batas akhir yang telah ditentukan oleh Allah, pasti azab yang serupa juga menimpa mereka yang kafir itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 128-130 Allah SWT berfirman: (Maka tidakkah menjadi petunjuk) bagi orang-orang yang mendustakan apa yang kamu sampaikan kepada mereka, wahai Muhammad, berapa banyak Kami membinasakan umat-umat yang mendustakan para rasul sebelum mereka. Umat-umat itu dibinasakan dan tidak ada bekas-bekasnya, sebagaimana mereka menyaksikan hal itu di tempat-tempat bekas mereka yang kosong yang mereka dengan berjalan kaki (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal) yaitu yang berakal sehat dan berhati lurus, sebagaimana Allah SWT berfirman: (maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (46)) (Surah Al-Hajj) Kemudian Allah SWT berfirman: (Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan pasti (azab) menimpa mereka (129)) yaitu seandainya tidak ada ketetapan sebelumnya dari Allah, bahwa Dia tidak akan mengazab seseorang melainkan setelah ditegakkan hujjah atasnya dan berdasarkan waktu yang ditentukan Allah SWT terhadap orang-orang yang mendustakanNya, maka sungguh akan datang kepada mereka azab secara tiba-tiba. Oleh kaena itu Allah SWT berfirman kepada NabiNya seraya menghiburnya: (Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan) yaitu pendustaan mereka terhadapmu (dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari) yaitu, shalat fajar (dan sebelum terbenamnya) yaitu shalat Ashar, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata,”Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau SAW memandang ke bulan yang sedang purnama, lalu bersabda,”'Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatNya. Maka jika kalian mampu agar tidak dikalahkan dengan mengerjakan shalat sebelum terbit dan sebelum terbenamnya matahari, maka kerjakanlah” Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat ini" Firman Allah: (dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari) yaitu, kerjakanlah shalat tahajud di waktunya. Sebagian ulama menafsirkannya sebagai shalat Maghrib dan Isya’ (dan pada waktu-waktu di siang hari) berlawanan dengan waktu-waktu malam hari (supaya kamu merasa senang) Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (senang) (5)) (Surah Adh-Dhuha: 5)
Tafsir As-Sa'di
128. Maksudnya, “Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka,” yaitu orang-orang yang mendustakan lagi berpaling, lalu mengarahkan mereka untuk melintasi jalan petunjuk dan menjauhi jalan kesesatan dan kerusakan, yaitu azab yang telah Allah timpakan kepada orang-orang yang mendustakan sebelum mereka dari generasi-generasi terdahulu dan bangsa-bangsa yang silih berganti yang mereka itu mengetahui sejarah-sejarah mereka dan menjadikannya bahan perbincangan mereka di malam hari, serta dapat menyaksikan (dengan mata kepala mereka) bekas-bekas tempat tinggal kaum yang mendustakan itu, semisal kaum Nabi HUd, Shalih, Luth, dan lain-lain. Mereka itu ketika mendustakan para rasul kami dan berbelok dari kitab-kitab Kami, niscaya Kami menjatuhkan siksa yang pedih pada mereka. Apakah yang membuat orang-orang itu merasa aman dari turunnya siksa yang mengenain kaum-kaum itu? "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?. Atau apakah mereka mengatakan: "Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang". (Al-Qamar:43-44). Fakta ini sama sekali tidak ada pada mereka. Orang-orang kafir itu lebih baik daripada mereka (yang sudah dibinasakan) hingga siksaan (bisa) disingkirkan dari mereka dengan sebab kebaiikan yang mereka punya. Bahkan mereka itu lebih buruk dari kaum-kaum itu. Karena mereka mengingkari utusan Allah yang termulia dan kitab yang terbaik. Mereka pun tidak mempunyai (surat) bebas yang tertulis dan janji (selamat) dari Allah. Dan mereka bukanlah sebagaimana yang mereka ungkapkan, bahwa kesatuan mereka berguna bagi mereka dan sanggup menolak azab dari mereka. Bahkan mereka itu lebih hina dan nista dari itu. Permusuhan generasi-generasi manusia tempo dulu disesbabkan dosa-dosa mereka adalah termasuk salah satu penyebab datangnya hidayah, lantaran ia termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menandakan kebenaran risalah para rasul yang membawanya kepada mereka dan kebatilan ajaran yang ada pada kaum kuffar. Akan tetapi, tidak setiap orang dapat meraih manfaat dengan tanda-tanda kebesaran Allah itu. Orang yang berhasil merengkuh manfaat dengannya, hanyalah orang-orang berakal, yaitu orang-orang yang mempunyai akal-akal sehat lagi fitrah-fitrah yang masih lurus. Sementara al-Albab adalah akal-akal yang mengekang pemiliknya dari hal-hal yang tidak sepantasnya diperbuat.
Tafsir Al-Wajiz
128. Apakah belum dijelaskan dalam Al-Qur’an kepada orang-orang kafir Mekah dan yang lainnya, berapa banyak umat-umat terdahulu yang telah Kami hancurkan karena telah mendustakan para rasul, sedangkan mereka (orang kafir Mekah) itu berjalan melewati reruntuhan rumah-rumah mereka (umat terdahulu). Sesungguhnya dalam hal itu ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal.