Surah Al-Baqarah : Ayat 115
وَلِلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Tafsir Ringkas Kemenag
Dan milik Allah timur dan barat. Artinya, Allah adalah tuhan bumi seluruhnya. Ke mana pun kamu menghadap ketika menunaikan salat, di sanalah wajah Allah, yaitu kiblat yang diinginkan Allah bagimu. Sungguh, Allah mahaluas, tidak sempit dan tidak terbatas, maha mengetahui siapa yang menghadap kepada-Nya di mana pun ia berada. 116dan mereka, kaum yahudi dan nasrani, berkata, Allah mempunyai anak. Mahasuci Allah dari perkataan mereka. Ayat ini diturunkan sebagai jawaban atas pernyataan kaum yahudi yang meyakini uzair sebagai putra Allah, kaum nasrani yang meng anggap isa sebagai putra Allah, dan kaum musyrik arab yang menganggap malaikat sebagai putri Allah. Bahkan milik-Nyalah, yakni Allah-lah pencipta dan pe milik apa yang di langit dan di bumi, termasuk di dalamnya uzair, isa, dan para malaikat itu. Semua tunduk, taat, dan patuh kepada-Nya, yakni kepada kebesaran, kekuasaan dan kehendak-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ini (Hanya Allah yang lebih mengetahui) memiliki makna untuk menghibur Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang dikeluarkan dari Makkah. Mereka meninggalkan masjid dan tempat ibadah mereka. Rasulullah SAW telah shalat di Makkah menghadap Baitul Maqdis dan Ka'bah. Ketika dia tiba di Madinah, dia menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian Allah mengubah arah kiblatnya menghadap Ka'bah. Itulah sebabnya Allah berfirman: (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ayat ini adalah ayat yang pertama kali dinasakh dalam Al-Quran sepanjang yang dapat kami sebutkan. Hanya Allah yang lebih mengetahui. Terkait masalah arah kiblat. Allah SWT berfirman: (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah) Kemudian Rasulullah SAW menerima itu dan shalat menghadap Baitul Maqdis dan meninggalkan Ka'bah, kemudian Allah mengubah arah itu kembali ke arah Ka'bah dan menasakhnya. Allah SWT berfirman: (Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya) (Surah Al-Baqarah: 150) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: "Hal pertama yang dinasakh dari Al-Qur'an adalah arah kiblat. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, dan penduduknya adalah orang Yahudi, Allah memerintahkan dia untuk menghadap Baitul Maqdis. Lalu orang-orang Yahudi gembira dengan itu. Rasulullah SAW menghadap ke sana selama beberapa bulan, namun Rasulullah SAW menyukai arah kiblat nabi Ibrahim. Beliau berdoa dan menengadah ke langit. Lalu Allah menurunkan ayat: (Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit…..) sampai firmanNya (palingkanlah mukamu ke arahnya)
Tafsir As-Sa'di
115. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat” Allah menyebutkan keduanya secara khusus, karena keduanya adalah poros daari ayat-ayat Allah yang agung pada tempat terbitnya cahaya dan terbenamnya, apabila Dia adalah Penguasa bagi kedua arah tersebut, maka pastilah Dia adalah Penguasa seluruh arah, ” maka ke mana pun kamu menghadap, ” yakni (menghadapkan) wajah kalian di antara arah-arah yang ada, apabila penghadapan wajah kalian itu karena perintahNya, baik dengan perintahNya untuk menghadap Ka’bah setelah sebelumnya kalian diperintahkan untuk menghadap Baitul Maqdis atau kalian diperintahkan untuk menegakkan shalat di atas kendaraan dalam perjalanan atau semacamnya, maka kiblat itu adalah ke manapun seorang hamba menghadapkan wajahnya, atau kiblatnya tidak jelas maka dia menetapkan dengan dugaan terkuat dalam menghadap kepadanya, kemudian jelas setelah itu kesalahan dugaanya, atau dia mendapat udzur karena sakit atau lainnya, maka dalam perkara ini seorang hamba boleh jadi diperintahkan atau dimaafkan. Yang jelas, tidaklah mungkin seseorang menghadap ke suatu arah dari arah-arah yang ada yang keluar dari kerajaan Tuhannya, “karena di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Maha mengetahui.” Ayat ini merupakan dalil tentang penetapan akan Wajah Allah yang sesuai denganNya. Oleh karena itu Allah memiliki Wajah, yang semua wajah tidak serupa denganNya dan Dia sangat luas karunia dan sifatNya, dan yang terbesar darinya adalah Dia Mahatahu tentang yang kalian sembunyikan dan kalian niatkan, dan di antara karunia dan ilmuNya adalah Dia memudahkan segala perkara bagi kalian dan Dia menerima apa yang diperintahkan kepada kalian, maka segala puji dan syukur hanya bagiNya.
Tafsir Al-Wajiz
Allah-lah penguasa kerajaan timur dan barat, serta penguasa apapun yang ada di antara keduanya. Kemana arah kalian menghadap ketika sholat, di situlah Allah meridhoinya sebagai kiblat bagi kalian. Sesungguhnya Allah Maha Luas dalam mencurahkan rahmat kepada hamba-Nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Menurut Imam At Thabbrani, ayat ini turun sebelum ada perintah untuk memindahkan kiblat sholat ke arah Ka’bah. Ayat ini di tujukan untuk membantah keyakinan para penyembah berhala pada zaman dulu yang menganggap bahwa ibadah itu tidak sah apabila tidak menghadap kepada suatu kiblat yang nyata