Surah Al-Isra : Ayat 111
وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًۢا
"Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."
Tafsir Ringkas Kemenag
Dan katakanlah wahai nabi Muhammad, segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, sebagaimana dikatakan orang-orang yahudi bahwa malaikat adalah anak-anak Allah, dan demikian pula dipercaya oleh orang-orang nasrani bahwa nabi isa adalah anak Allah, dan tidak pula mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, sebagaimana dipercaya oleh kaum musyrik yang percaya kepada tuhan-tuhan selain Allah, dan dengan demikian, dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan yang dilontarkan oleh siapa pun yang menghina-Nya. Hanya dia saja yang mahaagung dan oleh karena itu agungkanlah dia seagung-agungnya. Pada akhir surah al-isra', rasulullah diperintah agar memuji Allah dan menyucikannya dari segala kekurangan. Surah ini dimulai dengan menyampaikan kewajaran Allah menyandang pujian itu dengan mengingatkan tentang keharusan memuji dan menaati perintahnya sesuai dengan yang digariskan agama dalam kitab suci Al-Qur'an. Segala puji hanya tertuju bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya, yaitu nabi Muhammad al-kitab, yakni Al-Qur'an, dan dia tidak membuat padanya kebengkokan, baik redaksi maupun maknanya. Ayat demi ayatnya saling menjelaskan tidak ada pertentangan satu dengan lainnya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 110-111 Allah SWT berfirman kepada NabiNya, "Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik yang mengingkari sifat rahmat Allah," yaitu mereka yang tidak mau dengan sebutan Ar-Rahman: (Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asmaul husna) yaitu tidak ada bedanya antara seruan kalian dengan sebutan Allah atau sebutan Ar-Rahman, karena sesungguhnya Dia mempunyai nama-nama yang terbaik. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (22)) (Surah Al-Hasyr) sampai firmanNya: (Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana) (Surah Al-Hasyr: 22-24). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa ayat ini diturunkan ketika Rasulullah SAW sedang bersembunyi di Makkah, (dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya) bahwa jika Nabi SAW shalat dengan sahabat-sahabatnya, maka beliau mengeraskan bacaan Al-Qur'annya; dan ketika orang-orang musyrik mendengar bacaannya itu, mereka mencaci Al-Qur'an dan mencaci Dzat yang menurunkannya serta malaikat yang menyampaikannya. Lalu Allah SWT berfirman kepada NabiNya SAW: (dan janganlah kamu mengeraskan suaramu) yaitu bacaan Al-Qur'anmu, lalu orang-orang musyrik mendengarnya dan mereka mencaci Al-Qur'an. (dan janganlah pula kamu merendahkannya) dari sahabat-sahabatmu, maka mereka tidak dapat mendengarkan Al-Qur'an, sehingga mereka menerimanya dari bacaanmu. (dan carilah jalan tengah di antara kedua itu) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firmanNya: (dan carilah jalan tengah di antara kedua itu) dia berkata bahwa Ahli Kitab itu selalu merendahkan bacaan mereka lalu ada dari mereka yang mengeraskan bacaan suatu kalimat, maka orang-orang yang mengikutinya dengan keras di belakangnya. Lalu Allah SWT melarang Nabi SAW mengeraskan suara sebagaimana Ahli kitab mengeraskan suara mereka, dan melarang merendahkannya sebagaimana mereka merendahkan suara. Kemudian Allah SWT memberi jalan pertengahan di antara keduanya, yang dicontohkan Malaikat Jibril kepada nabi SAW dalam shalatnya. Firman Allah: (Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak") Setelah Allah SWT menetapkan bahwa DzatNya mempunyai nama-nama terbaik, lalu Dia menyucikan DzatNya dari semua kekurangan. Lalu Dia berfirman: (Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya”) bahkan Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang bergantung kepadaNya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada seorangpun yang setara denganNya. (dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan) yaitu Dia tidaklah hina sehingga memerlukan penolong, pembantu atau penasihat, tetapi Dia Maha Tinggi, Pencipta segala sesuatu sendiri, tidak ada sekutu bagiNya, Dzat yang mengatur dan memutuskan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, tidak ada sekutu bagiNya. Mujahid berkata tentang firmanNya: (dan tidak mempunyai penolong (yang menjaga-Nya) dari kehinaan) yaitu, Dia tidak memerlukan pertolongan seorang pun. (dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya) yaitu agungkanlah Dia dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dan melampaui batas dengan pengagungan yang setinggi-tingginya.
Tafsir As-Sa'di
111. “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah’ ,” yang mempunyai kesempurnaan, pujian, dan kemurahan dalam segala sisi, yang terlepas dari segala cacat dan kekurangan, “Dzat yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaanNya,” bahkan kerajaan semuanya adalah milik Allah Yang Maha Esa dan Perkasa. Semua mahluk yang berada di atas dan di bawah, semua milik Allah. Tidak ada bagian sedikit pun bagi siapa saja dari kerajaan itu “dan Dia tidak memerlukan penolong disebabkan kehinaan,” maksudnya tidak mengangkat salah seorang dari makhlukNYa sebagai waliNya guna mengagungkan diri dan menolonNya. Sesungguhnya Dia Mahakaya dan Mahaterpuji, tidak membutuhkan seorang pun dari makhlukNya, baik yang di bumi maupun yang di langit. Akan tetapi, Allah mengambil wali-wali sebagai kebaikan dan rahmat dariNya untuk para hambaNya, "Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)" (Al-Baqarah:257). “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya,” maksudnya besarkan dan agungkanlah Dia dengan memberitakan sifat-sifatNya yang agung, dan dengan memujiNya, dengan Asma’ul Husna, dengan memuji perbuatan-perbuatanNya yang suci, dan mengagungkanNya dengan beribadah kepadaNya semata tanpa sekutu dan mengikhlaskan agama ini semuanya hanya untuk Allah.
Tafsir Al-Wajiz
111. Katakanlah wahai Nabi: "Segala syukur dan pujian yang sempurna hanya bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya sebagai bantahan kepada orang musyrik, penyembah berhala yang mengatakan bahwa tuhan itu banyak. Ini sebagai bantahan kepada Nasrani, Yahudi, serta orang musyrik yang menyatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Dia tidak pula hina sehingga memerlukan penolong, agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya dari peranakan dan persekutuan. Ayat ini turun ketika Yahudi dan Nasrani berkata: “Allah memiliki putera.” Orang Arab berkata: “Aku memenuhi panggilan-Mu, Yang tidak memiliki sekutu kecuali sekutu yang Engkau miliki.” Adapun Shabi’ dan Majusi berkata: Kalau bukan karena sekutu Allah maka pasti hina.”