Surah Yusuf : Ayat 110
حَتَّىٰٓ إِذَا ٱسْتَيْـَٔسَ ٱلرُّسُلُ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا۟ جَآءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّىَ مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْمُجْرِمِينَ

"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa."

Tafsir Ringkas Kemenag
Dalam menunaikan tugasnya menyampaikan dakwah para nabi dan rasul tidaklah menempuh jalan yang mulus, melainkan penuh rintangan. Kebanyakan manusia bahkan tetap menentang ajakan tersebut, sehingga apabila para rasul menemukan berbagai halangan dan rintangan dalam tugas itu, seakan tidak mempunyai harapan lagi tentang keimanan kaumnya, dan telah meyakini bahwa mereka, para nabi dan rasul, telah didustakan oleh kaumnya, maka pada saat itu datanglah kepada mereka itu pertolongan kami, lalu diselamatkan-lah mereka dan orang yang kami kehendaki untuk selamat. Dan siksa kami tidak dapat ditolak ataupun dihindarkan dari orang-orang yang berdosa. Sebagai penutup surah yusuf, Allah kembali mengingatkan bahwa pada kisah para nabi dan rasul, termasuk kisah nabi yusuf, terkandung pesan-pesan untuk dipelajari dan dihayati manusia. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat atau sekadar dongeng pelipur lara, tetapi kisah-kisah itu membenarkan kandungan kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu taurat, zabur, dan injil, yang menjelaskan segala sesuatu tentang prinsip-prinsip nilai yang dibutuhkan manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai petunjuk menuju jalan lurus dan rahmat yang penuh berkah bagi orangorang yang beriman. Surah yusuf dimulai dengan pernyataan bahwa Al-Qur'an adalah ayatayat dari kitab yang nyata. Al-qur'an menceritakan kisah-kisah terbaik sepanjang perjalanan sejarah kemanusiaan. Surah ini kemudian ditutup dengan ayat yang menegaskan kembali adanya pelajaran pada kisah-kisah itu bagi orang-orang yang berakal. Hal ini merupakan bukti keserasian dan keruntunan dari kandungan Al-Qur'an.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT memberitahukan bahwa pertolonganNya diturunkan atas para rasulNya ketika mereka dalam kesempitan dan menunggu jalan keluar dari Allah dalam banyak waktu. Sebagaimana firman Allah SWT: (dan diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?”) (Surah Al-Baqarah: 214). Terkait firman Allah: (mereka telah didustakan) ada dua bacaan tentang hal itu, salah satunya dengan tasydid yaitu (Qad Kudzdzibu) bacaan ini dibaca oleh Aisyah. Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dia berkata,”Telah bercerita kepadaku Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah, bahwa dia bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah SWT: (Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka)) dia berkata,”Aku bertanya,”Kuzibu” atau “kudzdzibu”? Lalu Aisyah menjawab,"Kudzdzibu" Aku berkata,"Para rasul yakin bahwa kaum mereka telah mendustakan mereka, lalu bagaimana dugaan itu?" Aisyah menjawab,"Demi umurku, para rasul itu yakin atas hal itu" Aku berkata kepadanya (dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan) Aisyah berkata,"Kami berlindung kepada Allah, para rasul itu tidak menduga hal seperti itu kepada Tuhannya" Aku berkata, "Lalu apakah yang dimaksud ayat ini?" Dia menjawab bahwa mereka adalah para pengikut rasul-rasul yang beriman kepada Tuhan mereka dan membenarkan para rasul. Lalu ketika bencana menimpa mereka dalam waktu yang lama dan menurut mereka, pertolongan Allah dirasa lambat (sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi) terhadap orang-orang yang mendustakan mereka dari kalangan kaumnya, dan para rasul menyangka bahwa para pengikutnya telah mendustakan mereka, maka datanglah pertolongan Allah saat itu. Ibnu Juraij berkata,”Telah berkata kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, telah berkata kepadaku Urwah dari Aisyah, bahwa dia menentang hal itu, dan berkata, "Tidak sekali-kali Allah menjanjikan kepada nabi Muhammad SAW sesuatu kecuali beliau telah yakin bahwa hal itu akan terjadi, hingga beliau wafat. Akan tetapi bencana terus-menerus menimpa para rasul sehingga mereka menyangka bahwa orang yang bersama mereka dari kalangan orang-orang mukmin telah mendustakan mereka" Ibnu Abi Mulaikah berkata dalam hadits Urwah, Aisyah membacanya “wa zhannu annahum qad kudzdzibu” ditasydid dari bentuk mashdar “At-Takdzib” Ibnu Abi Hatim berkata, dari Yahya bin Sa’id berkata bahwa seseorang datang kepada Al-Qasim bin Muhammad, lalu berkata,"Sesungguhnya Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi membaca tentang ayat (hatta idza istai’asa ar-rusulu wa zhannu annahum qad kudzibu) Maka Al-Qasim berkata, (Beritahukanlah kepadanya dariku bahwa aku telah mendengar Aisyah adalah istri Nabi SAW membacanya: (hatta idza istai’asa ar-rusulu wa zhannu annahum qad kudzibu) yaitu dia berkata bahwa para pengikut rasul mendustakan mereka." Sanad yang shahih juga. Bacaan kedua adalah bacaan tahfif. Para ulama berbeda pendapat mengenai tafsirnya. Ibnu Abbas berkata pendapat sebelumnya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa dia membacanya (hatta idza istai’asa ar-rusulu wa zhannu annahum qad kudzibu) dengan ditahfif. Abdullah berkata bahwa ini adalah makruh.
Tafsir As-Sa'di
110. Allah memberitahukan bahwa Dia mengutus para rasul ynag mulia. Namun kaum yang jahat lagi pencela mendustakan mereka. Allah masih menyediakan tempo bagi mereka agar kembali menuju kebenaran. Allah senantiasa menagguhkan mereka sampai pada level kekerasan sikap mereka yang dahsyat terhadap para rasul. Sampai-sampai para rasul meski memiliki keyakinan yang sempurna dan kekuatan kepercayaan mereka kepada janji Allah dan ancamanNya, boleh jadi terlintas pada hati mereka keputusasaan dan kelemahan dalam ilmu dan kepercayaan. Apabila kondisi mereka sudah mencapai tingkat ini “datanglah kepada rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki.” Mereka itu adalah para rasul dan penganut mereka “Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa”, maksudnya siksaan Kami tidak bisa ditampik dari orang-orang yang berbuat dosa dan nekat (berbuat buruk) terhadap Allah. Tiada kekuatan dan penolong bagi mereka.
Tafsir Al-Wajiz
110. Sehingga rasul putus asa dengan keimanan kaumnya dan meyakini bahwa kaumnya menganggap para rasul itu mengingkari apa yang mereka janjikan berupa pertolongan, maka akan datang seketika pertolongan Kami kepada mereka. Lalu Allah menyelamatkan hamba-hambanya yaitu nabi dan orang-orang yang beriman dari azab. Dan azab kami terhadap orang-orang musyrik yang mendustakan para rasul itu tidak bisa kembali.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com