Surah At-Taghabun : Ayat 11
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Tafsir Ringkas Kemenag
Allah tidak hanya menciptakan makhluk, tetapi juga mengatur seluruh makhluk. Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa seseorang dalam kehidupan ini, kecuali dengan izin Allah, karena Allah mengetahui dan mengatur kehidupan ini; dan barang siapa beriman kepada Allah dengan istikamah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya dengan memantapkan imannya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terjadi di jagat raya maupun yang terjadi di jagat kecil, sanubari manusia. 12. Allah mengajarkan kepada manusia cara yang benar dan tepat dalam hidup ini. Dan taatlah wahai manusia kepada Allah dengan beriman dan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya; dan taatlah kepada rasul dengan mengikuti sunah-sunahnya. Jika kamu berpaling dari Allah dengan kufur atau mengabaikan perintah-Nya dan berpaling dari rasul dengan melupakan sunahnya, maka sesungguhnya kewajiban rasul kami hanyalah menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia dengan terang sehingga manusia mengenal ajaran Allah dengan benar.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 11-13 Allah SWT berfirman seraya memberitahukan kembali apa yang Dia ceritakan dalam surah Al-Hadid (Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah) (Surah Al-Hadid: 22) Demikian pula di sini Allah berfirman: (Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah) Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah dengan perintah Allah, yaitu dengan kekuasaan dan kehendakNya. (Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) yaitu barang siapa yang ditimpa musibah maka dia tahu bahwa itu sesuai dengan ketentuan dan takdir Allah, maka dia bersabar, bermuhasabah, dan menyerahkan diri kepada ketentuan Allah. Allah memberi petunjuk kepada hatinya dan menggantikan apa yang terlewat darinya dari perkara dunia dengan petunjuk di hatinya dan keyakinan yang benar, dan terkadang akan diganti untuknya sesuatu yang atau kebaikan yang diambil darinya Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya (Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya) yaitu Allah memberi petunjuk kepada hatinya untuk yakin, sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya itu tidak bisa dihindari dan apa yang dia lewatkan tidak akan menimpanya Diriwayatkan dari Abu Zhibyan, dia berkata: “Kami berada di samping Alqamah, lalu dia membaca ayat ini (Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya), lalu ditanya tentang itu, kemudian dia menjawab: “Ini adalah seseorang yang tertimpa musibah, kemudian dia mengetahui bahwa itu dari sisi Allah, lalu dia ridha dan berserah diri" yaitu mengembalikan segala sesuatunya dan mengatakan: (Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami dikembalikan) (Surah Al-Baqarah: 156) Firman Allah: (Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul) perintah untuk taat kepada Allah dan RasulNya, yaitu dengan mengerjakan syariatNya, mengerjakan apa yang Dia perintahkan, dan meninggalkan apa yang Dia larang dan Dia haramkan. Kemudian Allah berfirman: (jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang) yaitu jika kalian enggan mengamalkannya, maka sesungguhnya baginya hanyalah menjalankan apa yang ditugaskan, yaitu menyampaikan risalah, dan diwajibkan atas kalian melakukan apa yang dibebankan kepada kalian, yaitu mendengar dan menaatinya. Az-Zuhri berkata bahwa yang dari Allah adalah risalah, dan tugas Rasul adalah menyampaikannya. Kemudian Allah SWT berfirman seraya memberitahukan bahwa Dia adalah Dzat Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maka Allah SWT berfirman: ((Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja (13)) Bagian pertama dari ayat ini merupakan pemberitahuan tentang keesaan Allah, tetapi makna yang dimaksud adalah kalimat perintah yakni “Esakanlah penyembahan itu hanya kepadaNya, dan ikhlaskanlah ketaatan itu hanya kepadaNya, lalu bertawakallah kepadaNya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: ((Dialah) Tuhan timur dan barat, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung (9)) (Surah Al-Muzzammil)
Tafsir As-Sa'di
11. Allah berfirman, “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” Ini berlaku secara umum untuk berbagai musibah yang menimpa diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lainnya. Semua yang menimpa manusia berdasarkan Qadha dan Qadar Allah. Allah telah mengetahui hal itu sebelumnya, penaNya telah menulis semua takdir dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hikmahNya berlaku. Namun yang amat penting adalah apakah manusia menunaikan tugasnya dalam hal Qadha dan Qadar ataukah tidak? Jika ia menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika percaya bahwa semua yang menimpanya berasal dari sisi Allah, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya, maka Allah akan menunjukkan hatinya sehingga ia akan merasa tenang dan tidak gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah. Allah memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petunjuk ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan pahala besar di samping pahala besar yang disimpan Allah pada hari Pembalasan kelak. Ini sejalan dengan Firman Allah, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” -Az-Zumar: 10 Dari sini dapat diketahui, bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah pada saat tertimpa musibah karena tidak memahami takdir dan ketentuan Allah namun hanya terbatas pada sebab-sebabnya saja, maka ia telah dihinakan, dan Allah-pun menyerahkan urusannya itu pada dirinya sendiri. Apabila seseorang hamba telah diserahkan pada dirinya sendiri padahal jiwa manusia itu hanya bisa berkeluh kesah dan bersedih, maka hal itu merupakan siksaan yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum siksaan akhirat nanti karena tidak menunaikan kewajiban bersabar. Inilah yang berkaitan dengan Firman Allah, “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya,” yakni ketika tertimpa musibah. Adapun yang berkaitan dengan keumuman tekstual ayat, Allah memberitahukan bahwa setiap orang yang beriman (maksudnya, dengan keimanan sesuai yang diperintahkan yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, Hari Akhir, dan takdir, baik dan buruknya) dan membuktikan kebenaran imannya dengan menunaikan tuntutan-tuntutan serta kewajiban-kewajiban iman, faktor yang dilakukan oleh seorang hamba seperti ini merupakan faktor terbesar hidayah Allah dalam perkataan, perbuatan, dan di segala halnya, dan juga dalam ilmu dan amalnya. Ini adalah balasan terbaik yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah ketika memberitahukan bahwa Dia meneguhkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Asal mula keteguhan adalah keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinannya ketika tertimpa berbagai musibah. Firman Allah yang dimaksud adalah, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;” -Ibrahim:27- Orang yang beriman adalah orang yang hatinya mendapatkan hidayah dan paling kuat ketika tertimpa berbagai musibah yang merisaukan. Hal itu dikarenakan keimanan yang tertanam pada diri mereka.
Tafsir Al-Wajiz
11. Tidak ada musibah apapun yang menimpa seseorang (yaitu setiap sesuatu ditunjukkan kepadanya baik kebaikan maupun keburukan dan menimpa dirinya atau hartanya) tanpa sepengetahuan Allah, kehendak, takdir dan kuasaNya. Barangsiapa benar-benar beriman kepada Allah, maka hatinya akan ditunjukkan pada kebaikan, kesabaran, dan keridhaan atas musibah itu. Dia juga akan mengetahui bahwa sesungguhnya musibah itu dari Allah. Dan Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada yang dapat tersembunyi dariNya, bahwan misteri-misteri dan keadaan hati.

Sumber tafsir dari tafsirweb.com