Surah At-Taubah : Ayat 104
أَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَأْخُذُ ٱلصَّدَقَٰتِ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
"Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?"
Tafsir Ringkas Kemenag
Allah menegaskan dalam bentuk pertanyaan, tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat yang tulus dari hamba-hambanya dan menerima zakat mereka dengan memberinya pahala, dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah maha penerima tobat orang-orang yang menyesali dosa yang telah mereka lakukan, lagi maha penyayang kepada mereka yang benar dalam tobatnya' dan katakanlah, kepada mereka yang bertobat, bekerjalah kamu, de-ngan berbagai pekerjaan yang mendatangkan manfaat, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, yakni memberi penghargaan atas pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin juga akan menyaksikan dan menilai pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan, yakni meninggal dunia dan pada hari kebangkitan semua makhluk akan kembali kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan di dunia, baik yang kamu tampakkan atau yang kamu sembunyikan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 103-104 Allah Swt. memerintahkan Rasulallah SAW untuk mengambil zakat dari harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka. Hal ini umum, meskipun sebagian ulama mengembalikan dhamir pada kata “amwalihim” kepada orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka dan yang mencampurbaurkan amal shalh dan amal buruk. Oleh karena itu ada sebagian orang yang enggan membayar zakat dari orang-orang Arab Badui meyakini bahwa pembayaran zakat kepada imam itu tidak ada, melainkan hanya khusus untuk Rasulullah SAW. Oleh karena itu mereka berhujjah dengan firman Allah SWT: (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka) Penafsiran dan pemahaman yang rusak ini dijawab oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat dan memerangi mereka, sehingga mereka membayar zakatnya kepada khalifah, sebagaimana mereka membayarnya kepada Rasulullah SAW sehingga Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,”Demi Allah, seandainya mereka membangkang terhadapku, tidak mau menunaikan zakat ternak untanya yang biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah SAW, maka sungguh aku benar-benar akan memerangi mereka karena pembangkangannya itu. Firman Allah SWT: (dan berdoalah untuk mereka) yaitu berdoalah dan mohonkanlah ampun untuk mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dalam hadits shahih dari Abdullah bin Abu Aufa, dia berkata bahwa Nabi SAW ketika menerima zakat dari suatu kaum, beliau berdoa untuk mereka. Lalu datanglah ayahku dengan membawa zakatnya, lalu Rasulullah SAW berdoa,”Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada keluarga Abu Aufa” Firman Allah (Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka) Sebagian ulama membacanya (shalawaatika) dalam bentuk jamak, dan lainnya membaca (shalaataka) dalam bentuk mufrad ((menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka) Ibnu Abbas berkat,”Rahmat bagi mereka” dan Qatadah berkata,”Ketenangan”. Firman Allah: (Dan Allah Maha Mendengar) kepada doamu (lagi Maha Mengetahui) yaitu orang yang layak mendapatkan hal itu darimu dan orang yang layak mendapatkan. Firman Allah: (Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat) Ini adalah dorongan untuk bertaubat dan menunaikan zakat yang keduanya masing-masing menghapuskan dan menghilangkan dosa-dosa. Allah SWT memberitahukan bahwa setiap orang yang bertaubat kepadaNya, maka Dia menerima taubatnya. dan siapa saja yang menunaikan zakat dari usaha yang halal, sesungguhnya Allah menerimanya dengan tangan kananNya, lalu Dia memeliharanya untuk pemiliknya, hingga sebiji buah kurma menjadi seperti bukit Uhud.
Tafsir As-Sa'di
104. Yakni, apakah mereka tidak mengetahui rahmat Allah yang luas dan karuniaNya yang menyeluruh, dan bahwa Dia “menerima taubat dari hamba-hambaNya”, yang bertaubat dari dosa apa pun, bahkan Dia berbahagia karena taubat hambaNya jika dia bertaubat dengan kebahagiaan yang besar, “dan menerima zakat”, dari mereka , yakni menerima, dan mengambilnya dengan Tangan KananNya. Maka Dia menumbuhkannya seperti seorang laki-laki menumbuhkan anak kudanya, sehingga satu biji kurma bisa menjadi seperti gunung yang besar. Lalu, bagaimana dengan yang lebih besar dan lebih banyak dari itu? “Dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” yakni banyak mengampuni orang-orang yang bertaubat. Siapa yang bertaubat kepadaNya, maka Allah akan menerima taubatnya, meskipun kemaksiatan yang dilakukannya berulang-ulang. Dan Allah tidak akan merasa bosan memberi ampun kepada hamba-hambaNya sehingga mereka sendiri yang merasa bosan dan menolak kecuali menjauh dan menghindar dari pintuNya sambil berkawan dengan musuh mereka. “Maha Penyayang”, yang rahmatNya meliputi segala sesuatu dan Dia menetapkannya untuk orang-orang yang bertakwa, membayar zakat, beriman kepada ayat-ayatNya, dan mengikuti RasulNya.
Tafsir Al-Wajiz
104. Apakah orang-orang yang bertaubat dan orang-orang mukmin itu tahu bahwa Allah menerima taubat yang benar dari hambaNya yang mau bertaubat, karena ketidakbutuhanNya dari ketaatan dan pengabaiannya terhadap kemaksiatan. Dan Allah menerima sedekah mereka dan melipatgandakan pahalanya. Dan sesungguhnya Allah itu Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang bagi orang yang bertaubat.