Surah An-Nisa : Ayat 100
۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Tafsir Ringkas Kemenag
Usai mengecam mereka yang enggan berhijrah, pada ayat ini Allah lalu memberi janji dan harapan kepada mereka yang berhijrah. Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah dengan niat dan hanya mengharap keridaan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan menemukan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju dan sebelum kembali ke rumahnya, maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah maha pengampun atas segala dosa orangorang yang berhijrah atau siapa pun yang memohon ampunannya, dan maha penyayang yang senantiasa mencurahkan aneka rahmatnyadan apabila kamu bepergian di bumi untuk melakukan peperangan atau melakukan perniagaan atau lainnya, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar salat, yaitu dengan cara memperpendek jumlah rakaat salat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, seperti salat zuhur, asar, dan isya, jika kamu takut diserang atau takut akan bahaya yang ditimbulkan oleh orang-orang kafir yang merupakan musuhmu. Sesungguhnya orangorang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 97-100 Muhammad bin Abdurrahman Abu Al-Aswad berkata, Telah terputus hubungan dengan penduduk Madinah ketika diutus, kemudian aku menulis sesuatu tentang itu. Lalu aku bertemu dengan ‘Ikrimah, hamba Ibnu Abbas, dan aku memberitahunya tentang hal itu. Dia melarang keras aku dari hal itu. Dia berkata, “Ibnu Abbas telah memberitahuku bahwa orang-orang dari golongan muslim pernah bersama dengan orang-orang musyrik. Mereka memperbanyak jumlah mereka berdasarkan janji Rasulullah SAW. Suatu anak panah dilemparkan, sehingga mengenai salah satu dari mereka, sehingga mengakibatkan dia tewas atau terluka pada bagian lehernya lalu dia tewas. Lalu Allah menurunkan ayat: (Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri) Adh-Dhahhak berkata, ayat ini diturunkan terkait beberapa orang munafik yang berpaling dari Rasulullah SAW di Makkah. Mereka bergabung dengan orang-orang musyrik di hari perang Badar. Mereka terluka seperti yang lainnya. Lalu turunlah ayat ini secara umum untuk setiap orang yang tinggal di antara orang-orang musyrik, sedangkan dia mampu untuk hijrah, dan mampu menegakkan agama. Lalu dia menzalimi diri sendiri dan melakukan dosa, menurut kesepakatan ulama’ terkait ayat ini, dimana Allah berfirman (Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri) yaitu dengan tidak mau berhijrah (malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?") yaitu kenapa kalian tinggal di sini dan tidak mau berhijrah? (Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (97)). Firman Allah (kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah) (98)) ini adalah keringanan dari Allah kepada mereka untuk tidak melakukan hijrah. Hal ini karena mereka tidak mampu untuk melepaskan diri diri dari genggaman orang-orang musyrik. Sekalipun mampu, mereka tidak mengetahui jalannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, (yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)) Mujahid, 'Ikrimah, dan As-Suddi berkata bahwa maknanya adalah jalan Firman Allah, (mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya) yaitu Allah membiarkan mereka untuk tidak melakukan hijrah, dan kata “’asaa” dari Allah adalah sesuatu yang diwajibkan, (Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata tentang ayat, (kecuali mereka yang tertindas) dia berkata,”Aku, ibuku termasuk orang diampuni oleh Allah. Firman Allah, (Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak) ini adalah dorongan untuk berhijrah dan dorongan untuk meninggalkan orang-orang musyrik, serta sesungguhnya seorang mukmin, di mana pun dia pergi, akan menemukan perlindungan dan tempat berlindung yang melindungi dirinya dari orang-orang musyrik. “Al-Muraagham” adalah mashdar dari kata yang biasa diucapkan oleh orang Arab, “Raaghama fulan qaumahu muraaaghaman wa muraaghamatan" (Fulan meminta perlindungan kaumnya) "An-Nabighah bin Ja’dah berkata: Seperti gunung ditopang dengan pilar-pilarnya, Maha Perkasa yang menjadi tempat berlindung dan tempat menghindar. Ibnu Abbas berkata: "Al-Muraagham" adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Demikian juga diriwayatkan dari Adh-Dhahhak, Ar-Rabi' bin Anas, dan Ats-Tsauri. Mujahid berkata: "( tempat hijrah yang luas)" yaitu dijaukan dari sesuatu yang tidak disukai. Yang tampak (Hanya Allah yang lebih mengetahui) adalah bahwa ini adalah perlindungan yang melindungi diri dari musuh. Firman Allah (Wa Sa’ah) yaitu rezeki. Ini dikatakan oleh beberapa ulama’ di antaranya adalah Qatadah, dimana Allah berfirman: (niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak) yaitu dari kesesatan menuju petunjuk, dan dari kemiskinan menuju kekayaan. Firman Allah : (Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah) yaitu siapa pun yang keluar dari rumahnya dengan niat berhijrah, kemudian dia mati di tengah perjalanannya, maka dia mendapatkan pahala di sisi Allah dari hasil hijrahnya. sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari Umar bin Khattab, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan itu” Ini mencakup hijrah untuk semua perbuatan"
Tafsir As-Sa'di
100. Ayat ini sebagai suatu penjelasan sebagai suatu anjuran untuk berhijrah dan dorongan kepada serta penjelasan tetang kemaslahatan yang terkandung di dalamnya, dan Allah Yang Maha menepati janji itu telah menjajikan bahwa barang siapa yang berhijrah kejalanNya dengan hanya mengharap keridhaanNya, ia akan mendapatkan tempat yang luas dan rezeki yang melimpah, tempat yang luas itu mencakup kemaslahatan-kemaslahatan agama, dan rizki yang melimpah mencakup, kemaslahatan-kemaslahatan dunia, yang demikian itu ketika sebagian besar manusia mengira bahwa berhijrah itu akan mengakibatkan perpecahan segala kebersamaan, kekafiran setelah kekayaan, keterhinaan setelah kemilaan dan kesusahan setelah kelapangan, padahal hijrah itu tidaklah demikian, karena sesungguhnya orang Mukmin selama ia masih ada berada di kum Misyirikin, maka agamanya berada dalam kekeritisan, tidak hanya pada ibadah-ibadahnya yang pribadi seperti shalat dan semacamnya, dan tudak juga pada ibadah-ibadahnya yang berhubungan dengan orang yang berjihad dengan perkataan maupun perbuatan dan hal-hal yang mengikutinya, karena ia tidak mampu melakukan hal tersebut, dan ia berada dalam sasaran empukdalam perkara agamanya khususnya jika tergolng orang-orang yang tertindas, namun bila ia berhijrah du jalan Allah, niscaya ia mempu menegakan agama Allah dan sesungguhnya Al-muraggamah itu adalah sebuah katakonpherensif yang mencakup segala hal yang membuat marah musuh-musuh Allah berupa perkataan dan perbuatan, dan juga mengakibatkan perolehan rezeki yang luas, dan sesungguhnya apa yang di kabarkan oleh Allah tersebut benar-benar terjadi. Maka ambilah pelajaran tersebut dari para sahabat sesungguhnya mereka ketika berhijrah di jalan Allah dan meninggalkan negeri, anak-anak, serta harta mereka karena Allah sempurnalah iman mereka dengannya, dan mereka memperoleh keimanan yang sempurna, jihad yang besar, maka pembelaan terhadap agama Allah, di mana mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang setelah mereka, denmikian juga mereka memperoleh hal-hal yang diakibatkan oleh hal itu berupa kemenangan-kemenangan dan ghanimah-ghanimah, dimana mereka menjadi orang-orang yang jadi kaya, dan demikianlah, setiap orang yang melakukan apa yang mereka lakukan, niscaya mereka akan memperolah sampai Hari kiamat. Kemudian Allah berfirman, “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya” yaitu bertujuan kepada Rabbnya, keridhaanNya dan kecintaan kepada RasulNya, pembelaan terhadap agama Allah, dan bukan bertujuan selain itu, “kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju),” dengan terbunuh atau selainnya, “maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah,” yaitu sesungguhnya ia telah memperoleh pahala orang yang berhijrah yang telah mendapatkan maksudnya dengan jaminan dari Allah, yang demikian itu karena ia telah berniat dan bertekad serta adanya tindakan memulai perbuatan tersebut , maka di antara rahmat Allah kepadanya dan kepada orang-orang yang semisalnya bahwa Allah memberikan pahala untuk mereka secara penuh walaupun mereka belum menyempurnakan perbuatannya, dan Allah mengampuni apa yang teradi dari mereka berupa kelalaian dalam berhijrah dan selainnya, karena itulah Allah menutup ayat ini dengan dua namaNya yang mulia tersebut seraya berfirman, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Allah mengampuni bagi kaum Mukminin apa yang telah mereka lakukan berupa kesalahan-kesalahan, khususnya orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada Rabb mereka, Allah Maha Penyayang terhadap seluruh makhluk dengan rahmat yang membuat mereka ada atau hidup, menyehatkan mereka, memberi rizki kepada mereka berupa harta, anak cucu, kekuatan dan lain sebagainya, Maha Penyayang terhadap kaum Mukminin di mana Allah membimbing mereka kepada keimanan, mengajarkan mereka ilmu yang mengakibatkan keyakinan, memudahkan bagi mereka sebab-sebab kebahagiaan dan kemenangan, dan perkara yang membuat mereka memperoleh keuntungan yang besar, mereka akan melihat di antara rahmat dan karuniaNya yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit pada hati seorang manusia pun. Kita memohon kepada Allah agar tidak menahan kebaikanNya karena keburukan yang ada pada diri kita.
Tafsir Al-Wajiz
100 Barangsiapa berhijrah di jalan Allah dengan niat yang baik dan hanya mengharap ridha Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak meskipun dalam kekuasaan musuhnya. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpa mereka sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada orang-orang yang bertaubat. Ayat ini turun untuk Hubaib bin Dhomroh Al laitsi yang merupakan orang yang tua renta, dia ikut hijrah ke Madinah namun di tengah jalan dia wafat dengan mulia. Maka Allah menurunkan ayat ini.