Surah Asy-Syura : Ayat 10
وَمَا ٱخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَىْءٍ فَحُكْمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّى عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali."
Tafsir Ringkas Kemenag
Allah menyatakan kepada seluruh manusia, 'dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, termasuk di dalamnya tentang terjadinya kiamat itu, keputusannya terserah kepada Allah karena yang mengetahui tentang semua itu hanyalah dia. Lalu Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa yang memiliki sifat-sifat demikian itulah Allah, yang maha esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, maha mengetahui tentang segala sesuatu, mahaagung, dan mahakuasa. Dialah tuhanku, pemelihara, pembimbing dan pelindung-ku. Kepada-Nya aku terus-menerus bertawakal dan berserah diri dan kepada-Nya aku terus-menerus kembali untuk bertobat. 11. Dialah, Allah, pencipta langit dengan segala keindahannya dan pencipta bumi tanpa ada contoh sebelumnya dan dia pula yang menciptakan segala isi yang ada pada keduanya, termasuk makhluk-makhluk yang menghuninya. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, yaitu pasangan laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri dan menjadikan pula dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan bagi masing-masing binatang, ada jantan dan ada betina dan dengan berpasangan itu mereka dapat melanjutkan keturunannya. Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dan dapat melanjutkan keturunanmu dengan jalan berpasang-pasangan itu. Tidak ada sesuatu pun dari semua makhluk yang telah diciptakan-Nya itu yang serupa dengan dia dalam zat dan segala sifat dan perbuatan-Nya. Dia suci dari pasangan. Dan dia yang maha mendengar segala yang kamu katakan, maupun yang terlintas dalam pikiranmu, maha melihat segala yang kamu lakukan, baik secara terangan-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 9-12 Allah SWT berfirman seraya mengingkari orang-orang musyrik karena mereka telah menjadikan tuhan-tuhan selain Allah, dan pemberitahuan bahwa hanya Dialah Pelindung yang sebenarnya, yang tidak ada penyembahan kecuali hanya kepadaNya, karena sesungguhnya Dia Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kemudian Allah SWT berfirman: (Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah) yaitu, manakala kalian berselisih dalam urusan apa pun. Hal ini mengandung makna yang mencakup segala sesuatu (maka putusannya (terserah) kepada Allah) yaitu Dialah Dzat yang akan memutuskannya melalui kitabNya dan sunnah NabiNya. sebagaimana firmanNya: (Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)) (Surah An-Nisa: 59) (Yang demikian itu adalah Allah Tuhanku) yaitu Dzat yang memutuskan segala sesuatu (Kepada-Nyalah aku bertawakal dan kepada-Nyalah aku kembali) yaitu aku merujuk dalam semua urusan. Firman Allah: ((Dia) Pencipta langit dan bumi) yaitu Dzat yang yang menciptakan keduanya dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya (Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan) yaitu dari jenis, dan bentuk kalian sendiri sebagai karunia dan anugerah bagi kalian, baik laki-laki dan perempuan (dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula)) Dia telah menciptakan bagi kalian delapan macam pasangan binatang ternak. Firman Allah: (dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu) yaitu Dia menciptakan kalian di dalamnya, dan dengan penciptaan itu Dia terus-menerus mengembangbiakkan kalian, ada yang laki-laki dan yang perempuan, ciptaan demi ciptaan, generasi demi generasi, dan keturunan-demi keturunan, dari kalangan manusia dan binatang ternak. Al-Baghawi berkata tentang ini bahwa maknannya adalah di dalam rahim. Dikatakan bahwa itu di dalam perut. Dikatakan juga bahwa dalam hal itu terjadi penciptaan Mujahid berkata bahwa maknannya adalah generasi demi generasi, dari kalangan manusia maupun binatang ternak. Dikatakan bahwa huruf “fii” bermakna huruf “ba”, yaitu Dia mrnjadikan kalian berkembang biak. (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia) yaitu tidak ada suatu makhluk pun yang serupa dengan Pencipta makhluk yang berpasang-pasangan itu, karena hanya Dialah Dzat yang segala sesuatu bergantung kepadaNya, yang tidak ada tandingan bagiNya. (dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat) Adapun Firman Allah: (Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi) Tafsir tentang hal ini telah disebutkan dalam surah Az-Zumar, yang kesimpulannya bahwa Dialah Dzat yang Mengatur dan yang menentukan sesuatu pada keduanya (Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya)) yaitu Dia meluaskan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyempitkannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. MilikNyalahKeadilan dan kebijaksanaan yang sempurna (Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu)
Tafsir As-Sa'di
10. Allah berfirman, “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih,” baik dalam masalah prinsip-prinsip agama kalian atau cabang-cabangnya yang kalian belum menyepakatinya, “maka keputusanya kepada Allah,” artinya harus di kembalikan kepda al-Qur’an dan Hadist RasulNya. Dan apa pun ketentuan al-Qur’an dan hadist itu, maka itulah yang benar, dana pa pun yang menyalahi keduanya, itulah yang bathil. “Itulah Allah Rabbku,” maksudnya, karena Allah adalah Rabb pencipta, Pemberi rezeki dan pengatur, maka dia-lah hakim (pemberi keputusan) di antara hamba-hambaNya melalui syari’atNya dalam segala urusan mereka. Pengertian (mafhum) dalam ayat suci ini adalah bahwa”kesepakatan umat islam itu adalah hujjah yang pasti,”Sebab Allah tidak menyuruh kita mengembalikanya kecuali hal-hal yang kita perselisihkan. Sedangkan apa yang telah kita sepakati cukup menjadi kesepakatan umat, sebab umat islam itu terjaga dari kekeliruan, dan sudah pasti kesepakatan mereka tersebut sudah sejalan dengan ajaran yang ada di dalam al-Qr’aun dan Hadist Rasululloh. FirmanNya,”KepadaNya-lah aku bertawakal,” artinya, aku menyandarkan diri dengan hatiku kepadaNya dalam mencari kebaikan dan menolak keburukan dengan yakin kepdaNya dalam pemberian pertolongaNya,”dan kepadanyalah aku kembali,” artinya, aku menghadapkan diri dengan jiwa dan ragaku kepadaNya dan dengan taat dan ibadah kepadaNya. Dua prinsip ini sering di sebut oleh Allah di dalam kitabNya. Sebab, dengan keduanya kesempurnaan seorang hamba dapat dicapai. Dan kesempurnaan tidak dapat ia raih dengan ketiadaan dua prinsip ini atau ketiadaan salah satunya. Sama seperti Firman Allah,”Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan,” dan juga firmanNya, “Maka beribadahlah kalian kepadanya dan bertawakallah kepadaNya.”
Tafsir Al-Wajiz
10. Terkait sesuatu dalam urusan agama yang kalian pertentangkan, maka hukumnya diserahkan kepada Allah. Dialah Dzat yang menghakiminya dengan benar dan adil pada hari kiamat. Itulah Dzat yang Maha Bijaksana dalam segala sesuatu. Dialah Tuhanku, Allah. KepadaNyalah kusandarkan segala urusanku, bukan kepada selainNya. Dan Hanya kepadaNyalah aku kembali sebagai orang yang bertaubat dan meminta pertolongan atas setiap urusan serta berlindung dari setiap keburukan