Surah Al-Baqarah : Ayat 10
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta."

Tafsir Ringkas Kemenag
Hal itu karena dalam hati mereka ada penyakit, seperti penyakit iri dan dengki kepada orang-orang yang beriman, keraguan terhadap ajaran islam, keyakinan yang keliru, dan lainnya, lalu Allah menambah parah penyakitnya itu dengan kemenangan yang besar bagi orang-orang yang beriman. Kemenangan itu sangat menyakitkan mereka karena rasa iri, dengki, dan sombong yang ada dalam diri mereka. Keraguan mereka pun semakin menjadi. Dan, sebagai akibatnya, selain menderita di dunia, mereka akan mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta dengan memperlihatkan keimanan padahal hati mereka ingkar. Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan di bumi, dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan. Mereka menjawab, sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan. Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya: selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan.
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Abbas mejelaskan bahwa (dalam hati mereka ada penyakit) yaitu keragu-raguan Begitu juga pendapat Mujahid, 'Ikrimah, Hasan Al-Bashri, Abu Al-'Aliyah, dan Qatadah. Dari 'Ikrimah dan Thawus, berkata bahwa maksud (di dalam hati mereka ada penyakit) yaitu, Riya' Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa makna (Dalam hati mereka ada penyakit) yaitu penyakit dalam keyakinan beragama. Penyakit ini bukanlah penyakit fisik. Mereka adalah orang-orang munafik. Penyakit yang dimaksud adalah keraguan tentang islam yang sudah masuk ke dalam diri mereka. (Allah menambahkan penyakit kepada mereka) maknanya yaitu menambahkan hal kotor pada diri mereka. Lalu Abdurrahman membaca (Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira (124) Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit) (tambahan) keburukan atas keburukan mereka dan kesesatan atas kesesatan mereka. Yang dikatakan oleh Abdurrahman ini adalah pendapat yang hasan. itu adalah balasan sebanding dengan perbuatan mereka. Begitu juga yang dikatakan para ulama terdahulu yang melihat pada firman Allah SWT, (Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya (17)) (Surah Muhammad). Firman Allah SWT (sebab apa yang mereka dulu dustakan) itu juga dibaca "yukadzibun". Sungguh mereka itu digambarkan dengan ayat ini dan yang sebelumnya, karena mereka adalah pendusta dan mendustakan kebenaran. Gambaran pada ayat ini dan sebelumnya dijadikan satu
Tafsir As-Sa'di
10. firmanNya, “dalam hati mereka ada penyakit”. Yang dimaksud dengan penyakit disini adalah penyakit keraguan, syubhat, dan kemunafikan. Hal itu dikarenakan hati itu dihadapkan oleh dua penyakit yang menyebabkannya jauh dari kesehatannya dan kenormalannya, yaitu penyakit syubhat yang batil dan penyakit syahwat yang menjerumuskan. Kekufuran, kemunafikan, keragu-raguan, dan semua bid’ah-bid’ah itu adalah penyakit-penyakit syubhat, sedangkan perzinaan, suka akan kekejian dan menyukai kemaksiatan serta melakukannya, adalah di antara penyakit-penyakit syahwat. Sebagaimana firman Allah ta'ala : " sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya" (QS. Al-Ahzab : 32) Yakni syahwat zina. Dan orang yang selamat adalah orang yang diselamatkan dari kedua penyakit tersebut, hingga terwujudlah baginya keyakinan, keimanan, dan kesabaran dari setiap kemaksiatan lalu dia berjalan dalam pakaian-pakaian keselamatan. Dan firmanNYa tentang kaum munafikin, “dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya, ” adalah sebuah penjelasan tentang hikmah Allah ta’ala terhadap penentuan kemaksiatan atas pelaku-pelakunya dan bahwasanya hal itu disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu. Allah menguji mereka dengan kemaksiatan yang terjadi kemudian yang mengakibatkan hukuman. Sebagaimana firman Allah ta'ala : "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat" (QS. Al-'An'am : 110) "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka" (QS. As-Shof :5) "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah : 125) Maka hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan setelahnya, sebagaimana balasan kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Allah berfirman : "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk" (QS. Maryam : 76)
Tafsir Al-Wajiz
Di dalam hati mereka terdapat kerusakan akidah baik keragu-raguan dan kemunafikan ataupun kekufuran dan kedustaan. Kemudian Allah menambahkan penyakit lain pada (diri) mereka, yaitu dengki dan kebencian terhadap tingginya (derajat) kalam Allah, tetapnya kaidah Islam dan pertolongan (Allah) kepada orang-orang mukmin. Dan bagi mereka azab yang menyakitkan akibat kebohongan dan keangkuhan mereka dengan berpura-pura beriman

Sumber tafsir dari tafsirweb.com