Surah Al-Isra : Ayat 1
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Tafsir Ringkas Kemenag
Pada akhir surah an-nahl mengandung pesan kepada nabi Muhammad agar bersabar dan tidak bersedih hati disebabkan tipu daya dan penolakan orang-orang yang menentang dakwahnya. Di saat beliau mengalami kesulitan menghadapi orang-orang kafir yang menolak dakwahnya, ayat pertama dari surah ini menyatakan bahwa beliau mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, di mana Allah memperjalankannya dari masjidilharam ke masjidil aqsha dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan dan kebesarannya. Ayat pertama ini menyatakan, maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya, yakni nabi Muhammad, pada malam hari dari masjidilharam, yang berada di mekah ke masjidil aqsa, yang berada di palestina, yang telah kami berkahi sekelilingnya, dengan tanahnya yang subur yang menghasilkan aneka tanaman dan buah-buahan serta menjadi tempat turunnya para nabi, agar kami perlihatkan kepadanya dengan mata kepala atau mata hati sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan kami. Sesungguhnya dia, yaitu Allah adalah maha mendengar perkataan hamba-Nya, maha mengetahui tingkah laku dan perbuatannya. Bila Allah memuliakan nabi Muhammad dengan memperjalalankannya dari masjidilharam ke masjidil aqsa, maka dia memuliakan nabi musa dengan menganugerahkan kepadanya kitab taurat agar menjadi petunjuk bagi bani israil. Dan kami berikan kepada nabi musa kitab, yaitu taurat, dan kami menjadikannya sebagai petunjuk yang khusus bagi bani israil, yaitu anak keturunan nabi yakub, agar mereka tidak menyembah kepada selain-ku. Kepada mereka aku berfirman, janganlah kamu mengambil penolong selain aku, yakni janganlah menyembah dan menggantungkan segala urusan kepada selain-ku.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT memuji DzatNya, mengagungkan perkaraNya, karena kekuasaanNya melampaui segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan siapapun selain Dia. Maka tidak ada Tuhan dan Rabb selain Dia (yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu nabi Muhammad SAW (pada suatu malam) yaitu di dalam kegelapan malam (dari Masjidil Haram) yaitu masjid Makkah (ke Masjidil Aqsa) yaitu Baitul Maqdis yang terletak di Elia, tempat asal para nabi sejak Nabi Ibrahim, Oleh karena itu mereka dikumpulkan di sana, lalu Nabi SAW mengimami mereka di tempat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah imam paling agung dan pemimpin yang didahulukan. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada mereka semua. Firman Allah SWT: (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) yaitu tanaman dan buah-buahan (agar Kami perlihatkan kepadanya) yaitu nabi Muhammad (sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami) yaitu, Kami perlihatkan kepada nabi Muhammad sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang agung. Sebagaimana Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya Dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar (18)) (Surah An-Najm). Firman Allah: (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) yaitu Maha Mendengar semua ucapan hamba-hambaNya, yang mukmin maupun yang kafir, yang membenarkan maupun yang mendustakan di antara mereka. Dia Maha Melihat semua perbuatan mereka, siapa yang berhak mereka terima di dunia dan akhirat.
Tafsir As-Sa'di
1. Allah menyucikan dan mengagungkan diriNYa, karena Dia memiliki perbuatan-perbuatan dan aneka karunia yang agung. Termasuk dalam kategori itu adalah bahwa Dia “yang telah memperjalankan hambaNya,” yaitu RasulNya, Muhammad “dari Masjidil Haram,” masjid yang paling agung secara mutlak “ke Masjidil Aqsha,” sebuah masjid yang termasuk kategori masjid-masjid yang utama dan tempat (pusat) para nabi. Beliau diperjalankan dalam satu malam melintasi jarak yang sangat jauh, dan kembali pada malam itu juga. Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya kepada beliau, yang menyebabkan beliau mendapatkan tambahan petunjuk, kekuatan bashirah, ketetapan hati serta pembeda (antara yang benar dan bathil). Peristiwa ini menunjukkan perhatian dan kelembutan Allah terhadap Nabi, lantaran Dia memberikan kemudahan dalam seluruh uruusan serta melimpahkan karunia-karuniaNya kepada beliau beliau hingga mengungguli orang-orang terdahulu dan generasi yang akan datang dengannya. Zahirnya ayat menunjukkan bahwa, peristiwa Isra’ terjadi pada permulaan malam dan sejak dari tempat Masjidil Haram itu sendiri. Akan tetapi, telah disebutkan dalam kitab ash-Shahih bahwasanya Rasulullah memulai perjalanan Isra’ dari rumah Ummu Hani. Berdasarkan ini maka keutamaan Masjidil Haram berlaku untuk seluruh tanah Haram. Di setiap tanah Haram, (pahala) beribadah akan berliparganda sebagaimana pelipatgandaan (pahala) ibadah di dalam Masjidil haram. (Selain itu), ayat ini menunjukkan bahwasanya peristiwa Isra’ (dan MI’raj) berlangsung dengan ruh dan jasad Nabi sekaligus. Karena jika tidak demikian, maka kejadian ini bukanlah termasuk tanda kebesaran yang besar dan keistimewaan yang agung. Begitu banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi berkaitan dengan peristiwa Isra’ (dan Mi’raj). Nabi menerangkan secara rinci kejadian-kejadian yang telah beliau lihat, dan bahwasanya beliau diperjalankan di malam hari menuju Baitul Maqdis, kemudian dinaikkan dari sana menuju langit-langit hingga sampai pada permukaan atas langit yang tertinggi. Beliau telah menyaksikan surge dan neraka, (bertemu dengan) sejumlah Nabi sesuai dengan kedudukan mereka, lantas ditetapkan atas beliau kewajiban shalat lima puluh waktu (dalam sehari semalam). Atas arahan dari Nabi Musa al-Kalim, beliau berbolak-balik kepada RabbNya (untuk meminta keringanan) hingga menjadi lima kali waktu secara perbuatan, dan menjadi 50 dalam pahala dan balasannya. Beliau dan umatnya telah meraih sumber-sumber kebanggaan di malam itu, yang tidak ada yang mengetahui kadarnya kecuali Allah. Allah menyebut Muhammad di sini dan di dalam kesempatan menurunkan al-Quran dan di tempat penentangan sifat ‘ubudiyah. Lantaran Rasulullah telah meraih kedudukan-kedudukan yang tinggi ini melalui penyempurnaan penghambaan beliau kepada Rabbnya. Dan Firman Allah, “Yang telah Kami berkahi sekelilingnya,” dengan pepohonan yang banyak dan sungai-sungai dan kesuburan yang langgeng. Di antara keberkahan (Masjidil Aqsha) adalah pengutamaan Masjid ini dibandingkan masjid-masjid lainnya selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan bahwasanya dituntut untuk memaksakan bepergian ke masjid-masjid ini semata-mata untuk beribadah dan shalat di dalamnya. Dan bahwa Allah telah mengkhususkan tempat ini bagi kebanyakan para nabi dan orang-orang pilihanNya.
Tafsir Al-Wajiz
Keutamaan: Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW setiap malam membaca surah Bani Israil dan Az-Zumar. Surah ini juga dinamakan surah Bani Israil dan termasuk surah-surah awal yang diturunkan di Mekah. 1. Maha suci Allah dari apa yang tidak sesuai dengannyan berupa sifat-sifat lemah dan kurang, Dzat yang menjalankan hambaNya, Muhammad SAW secara jasad dan ruh pada sebagian malam sebelum satu tahun berhijrah, dari rumah Ummu Hani’ di seberang Masjidil Haram (Masijil Haram digunakan untuk menyebut Mekah atau tempat suci yang ada di Mekah) menuju masjid Baitul Maqdis yang Kami berkahi sekelilingnya dengan buah-buahan, perkebunan dan sungai-sungai, dan menjadikannya sebagai tempat turunnya malaikat dan tempat tinggalnya para nabi, supaya Kami bisa memperlihatkan dia sebagian dalil-dalil kekuasaan Kami yang menakjubkan dan betapa menakjubkannya para makhluk. Sesungguhnya Dia (Allah) itu Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNya dan Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka. Dan di sini Allah menggambarkan nabiNya sebagai orang yang menerima wahyu kehambaan untuk memberi penghormatan, kemuliaan dan isyarat kepadanya yang mana dia berkumpul bersama para nabi dan melakukan perjalanan langit. Dan sungguh rasulallah SAW telah mengatakan kepada kaum Quraisy tentang peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut dan mereka mendustakannya lalu Allah menurunkan ayat ini untuknya sebagai wujud pembenaran baginya.